AHLI SUNNAH MENCINTAI KELUARGA NABI

AHLI SUNNAH MENCINTAI KELUARGA NABI

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai ahlul bait ( keluarga Nabi ) sesuai dengan wasiat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya.
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى
” Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku “. ( Dikeluarkan oleh Muslim 5 Juz 15, hal 180 Nawawy, Ahmad 4/366-367 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah No. 629).
Sedang yang termasuk keluarga beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mu’minin Radhiyallahu ‘anhunna wa ardhaahunna. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah berbicara keapda mereka dengan firmanNya :

” Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain,……..”(Al-Ahzab : 32)
Kemudian Alloh mengarahkan nasehat-nasehat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman :.

” Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesucisucinya”. ( Al-Ahzab : 33).

AISYAH ISTRI NABI DAN IBU ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Beliau adalah Ummul Muminiin Aisyah bintu Al-Imam Ash-Shiddiiq Al-Akbar Kholifah Rasulullah ( Abu Bakr Ash-Shiddiq Abdullah bin Abu Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Kab bin Sad bin Taim bin Murroh bin Kab bin Luayy Al-Qurasyiyyah At-Taimiyyah. Ibunya adalah Ummu Ruman bintu Amir bin Uwaimir bin Abdu Syams bin Ataab Al-Kinaniyyah.
Beliau dinikahi oleh Rasulullah ( sebelum hijrah sesudah wafatnya Khodijah bintu Khuwailid dua tahun sebelum hijrah, dikumpuli oleh Rasulullah ( sepulang beliau dari perang Badar ketika dia berusia 9 tahun.
Aisyah berkata : Rasulullah ( menikahiku sepeninggal Khodijah waktu itu aku berusia 6 tahun, dan masuk kepadaku ketika aku berusia 9 tahun. Urwah berkata : Aisyah berada di sisi Rasulullah ( selama 9 tahun.
Rasulullah ( tidak pernah menikahi wanita dalam keadaan masih gadis selain dia, dan tidak pernah mencintai seorang wanita lebih dari cintanya kepada Aisyah. Dia adalah istri Rasulullah ( di dunia dan di akhirat.
Suatu saat Rasulullah ( bersabda kepada Aisyah : Aku bermimpi didatangi malaikat yang membawamu dalam kain sutera dan dikatakan kepadaku : Inilah istrimu , maka aku buka wajahnya ternyata Engkau yang ada di dalam kain tersebut maka Aisyah berkata : Jika ini datang dari Allah maka Allah akan melangsungkannya .
Rasulullah ( sangat mencintai Aisyah dan sangat menampakkan kecintaannya tersebut, ketika beliau ditanya oleh Amr bin Ash tentang manusia yang paling dicintainya maka beliau menjawab Aisyah, ini adalah berita yang shohih walaupun tidak disukai oleh orang-orang Rafidhah. Kecintaan Rasulullah ( terhadap Aisyah adalah perkara yang masyhur di kalangan shohabat, sehingga jika ada seorang dari mereka hendak memberikan hadiah kepada Rasulullah ( berusaha memilih hari giliran Aisyah untuk mengharap keridlaan beliau. ( Untuk biografi yang lebih rinci tentang beliau silahkan melihat Thobaqoh Kubro oleh Ibnu Sad ( 8/58-81 ), Siyar Alamin Nubala oleh Adz-Dzahaby ( 2/136-194 ), Al-Ishobah oleh Ibnu Hajar ( 8/16-20 ),Tahdzibut Tahdzib oleh Ibnu Hajar ( 12/461 ), Al-Istiab oleh Ibnu Abdil Barr( 4/1881-1885 ).

HADITSUL IFKI, ANTARA ORANG-ORANG MUNAFIQ DAN ORANG-ORANG SYI’AH

Telah terjadi Hadiitsul Ifki ( berita bohong ) atas Ummul Mukminin Aisyah. Peristiwa ini terjadi pada waktu perang Muraisi pada tahun 5 H dan umurnya waktu itu 12 tahun, dan ada yang mengatakan pada waktu perang Bani Mushthaliq. Yaitu setelah turunnya ayat hijab.
Pada saat itu orang-orang munafiq yang dimotori oleh Abdullah bin Ubay menyebarkan tuduhan keji kepada Aisyah yaitu bahwa dia telah berbuat serong dengan Shofwan bin Mua’ththal salah seorang sahabat yang mengantar Aisyah ketika tertinggal di dalam perjalanan pulang safar bersama Rasulullah ( dan para sahabat. Maka beredarlah desas-desus tersebut di Madinah tanpa disadari oleh Aisyah yang sepulangnya dari perjalanan jatuh sakit selama sebulan. Sampai akhirnya Aisyah diberitahu oleh Ummu Misthah sehingga semakin menambah sakitnya. Kemudian Aisyah meminta izin Rasulullah ( untuk tinggal di rumah orang tuanya sementara waktu.
Rasulullah ( sendiri merasa berat dengan fitnah tersebut, karena wahyu yang menjelaskan masalah itu belum juga turun maka beliau meminta pendapat Usamah, Ali, dan Barirah, secara umum mereka menyatakan bersihnya Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Kemudian Rasulullah ( meminta pendapat para shohabat tentang hal itu, tetapi karena begitu gencarnya desas-desus tersebut terpisahlah kaum muslimin menjadi dua kelompok, ada yang membenarkan berita tersebut dan ada yang mendustakannya. Adapun Aisyah maka dia tidak henti-hentinya menangis siang dan malam.
Dalam suasana yang galau tersebut turunlah wahyu dari Allah ( yang menyatakan kesucian Aisyah dari tuduhan yang keji tersebut dengan firmannya dalam sepuluh ayat dari surat An-Nur :

“ Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”…. (Surat An-Nur 11-20 )
Demikianlah pada zaman Nabi ( kaum Munafiqin telah berupaya untuk mendiskreditkan Ummul Mukimin Aisyah dan membuat tuduhan keji kepadanya yang dibantah langsung oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat yang dibaca sampai hari kiyamat.
Ternyata kemudian datang para pengekor kaum Munafiqin dari orang-orang Syi’ah Rafidhah yang melampaui batas hingga membuat tuduhan-tuduhan keji terhadap Ummul Mukminin Aisyah.
Berkata Jafar Murtadho seorang gembong Syi’ah Rafidhah – di dalam bukunya Hadits al-Ifk (hal 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana (keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian, bahwa isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam di sini adalah Aisyah.
Berkata Muhammad al-Ayasyi – seorang gembong Syi’ah Rafidhah – dalam tafsirnya ( 32/ 286) surat Ali Imran, dari Abdush Shamad bin Basyar dari Abi Abdillah radhiallahu anhu ia berkata, Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya Allah berfirman,

“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad).”(QS. Ali Imran: 144). Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.