AGAR PEMIMPIN SESUAI HARAPAN

AGAR PEMIMPIN SESUAI HARAPAN
Setiap muslim tentu mengharapkan seorang pemimpin yang dapat membawanya kepada kebaikan dunia dan akhirat, seorang pemimpin yang membawa mashlahat bagi Islam dan kaum muslimin. Untuk mendapatkan harapan tersebut ada kiat-kiat syar’I yang hendaknya dilakukan oleh setiap muslim, di antara kiat-kita tersebut adalah :

1.NASEHAT KEPADA PARA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

Di antara orang yang kita diperintahkan untuk menasihatinya adalah para penguasa yang Alloh telah menjadikan mereka sebagai pemimpin kita, dari Tamim Ad-Dari bahwasanya Rasulullah ( bersabda :
” الدِّينُ النَّصِيحَةُ ” قُلْنَا: لِمَن ؟ْ قَال:َ “لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ و عامتهم ”
“ Agama itu adalah nasihat “ , Kami bertanya : “ Untuk siapa ( Ya Rasulullah) ?, . Beliau bersabda : “ Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi umumnya kaum muslimin “ ( Shahih Muslim 1/74 ).
Al-Imam Al-Khoththobi berkata : “ Nasihat adalah kata yang mengungkapkan suatu kalimat yaitu : bahwa pemilik nasehat menghendaki kebaikan orang yang dia nasehati. Nasehat ( النصح ) asal katanya dalam bahasa Arab adalah ( الخلوص ) : “ memurnikan “ ;dari kata ( نصحت العسل ) : “Aku murnikan madu dari kotoran yang melekat padanya”. ( Ma’alimus Sunan Syarh Abu Dawud no. :4944 ).
Al-Imam Muhammad bin Nasr Al-Marwazy berkata : “ Adapun nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin adalah mencintai kebaikan dan keadilan mereka, mencintai bersatunya ummat di bawah mereka, membenci perpecahan ummat dari mereka, beragama dengan mentaati mereka dalam ketaatan kepada Allah, membenci siapa saja yang memberontak kepada mereka, dan mencintai kejayaan mereka di dalam ketaatan kepada Allah “ ( Ta’dhim Qodri Sholat : 2/694 ).
Al-Imam Ibnu Sholah berkata : “ Nasihat bagi pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, mentaati mereka dalam hal yang ma’ruf, mengingatkan mereka dalam kebenaran, menasehati mereka dengan cara yang halus dan lembut, menjauhi perlawanan kepada mereka, mendoakan kebaikan kepada mereka dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama ” ( Shiyanatu Shohih Muslim 1/221-222 ).

2.MENDOAKAN KEBAIKAN TERHADAP PEMIMPIN

Di antara nasehat kepada pemimpin adalah mendoakan kebaikan kepada para pemimpin yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin padahal mereka mampu melakukannya.
Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni ( wafat tahun 449 H ) berkata :
ويرى أصحاب الحديث الجمعة والعيدين و غيرهما من الصلوات ، خلف كل إِمام ، برا كان أو فاجراً ، ويرون جهاد الكفرة معهم ، وإِن كانوا جَوَرة فجرة ، ويرون الدعاء لهم بالإِصلاح والتوفيق والصلاح ، وبسط العدل في الرعية
“ Dan Ashabul hadits memandang sholat Jum’at, Iedain, dan sholat-sholat yang lainnya di belakang setiap imam yang muslim yang baik maupun yang fajir, mereka memandang hendaknya mendoakan para pemimpin dengan taufiq dan kebaikan, dan menyebarkan keadilah terhadap rakyat “ ( Aqidah Salaf Ashabil Hadits hal. 106 ).
Fudhail bin ‘Iyadh berkata :
لو كانت لي دعوةٌ مستجابة ما جعلتها إِلا في السلطان
” Seandainya aku memiliki do’a yang mustajab maka tidaklah aku jadikan kecuali pada penguasa “, ketika ditanyakan tentang maksudnya maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata :
إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد
” Jika saya jadikan do’a itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri ” ( Diriwayatkan oleh Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang shahih ).
Maka sepantasnyalah bagi kaum muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasihat, dan menempuh jalan Salaf, sepantasnyalah bagi mereka mengkhususkan kepada waliyyul amar di dalam sebagian dari do’a-do’a kebaikan mereka, duhai seandainya orang-orang yang berkubang di dalam kehormatan para waliyyul amr berhenti dari apa yang mereka lakukan, dan menggantinya dengan do’a kebaikan, seandainya mereka melakukan ini maka sungguh ini adalah baik bagi mereka, ditambah lagi bahwa menyibukkan diri dengan pelanggaran-pelanggaran kehormatan tidaklah memperbaiki, bahkan akan menyesakkan dada dan memperbanyak dosa, Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi’i berkata :
ما سب قومٌ أميرهم إِلا حُرموا خيره
” Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali diharamkan mereka dari kebaikannya ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287 ).

3.MENYAMPAIKAN NASEHAT KEPADA PEMIMPIN DENGAN SEMBUNYI-SEMBUNYI

Jika terjadi kesalahan pada para penguasa maka yang wajib adalah menasehati mereka dengan cara yang syar’i dan ittiba’ kepada jalan Salafush Shalih yaitu dengan menasehatinya secara sembunyi-sembunyi, bukan dengan cara demonstrasi, provokasi, dan agitasi, Rasulullah ( bersabda :
من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه له
“ Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa pada suatu perkara maka janganlah dia tampakkan kepadanya terang-terangan, tetapi hendaknya dia pegang tangannya dan menyendiri dengannya, kalau dia menerima maka itu bagus, dan kalau tidak maka dia telah memunaikan kewajiabannya memberikan nasehat “ ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/403 dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah hal. 507 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah : 1096 ).
Umar bin Khaththab berkata : “ Wahai para rakyat sesungguhnya kalian memiliki kewajiban kepada kami : Nasihat dengan cara sembunyi-sembunyi dan saling membantu dalam kebaikan “ ( Diriwayatkan oleh Hannad bin Sari dalam Az-Zuhd 2/602 ).
Ketika Ibnu Abbas ditanya tentang cara amar ma’ruf dan nahi munkar kepada penguasa maka dia mengatakan : “ Jika kamu harus melakukannya maka antara dia dan dirimu saja “ ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnaf : 37307 dengan sanad yang hasan ).
Abdullah bin Abi Aufa berkata :
إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ وَإِلَّا فَدَعْهُ فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ
“Jika sang penguasa mendengar sesuatu darimu, maka datangilah rumahnya dan beritahulah dia apa-apa yang kamu ketahui hingga ia menerimanya, dan jika tidak, maka tinggalkanlah, karena kamu tidak lebih tahu daripada dia.” ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad di dalam Musnadnya : 19415 dan dihasankan oleh Syakh Al-Albani di dalam Zhilalul Jannah : 905 ).

HIKMAH MENASEHATI PEMIMPIN DENGAN SEMBUNYI-SEMBUNYI

Sesungguhnya Alloh dan RasulNya tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali dengan hikmah yang diketahui oleh orang yang mengetahui dan tidak mengetahui orang yang tidak mengetahui, yang terkadang hanya Alloh yang mengetahuinya sebagi ujian keimanan para hambaNya, sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman :
(((((((((( ((( (((((((( (((((((((( ((((( ((((((((( (((((( (((((((((( (
“ agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. “ ( Al-Baqarah : 143 ).
Di antara hal yang dijelaskan oleh para ulama tentang hikmah menasehati para pemimpin dengan cara sembunyi-sembunyi adalah :
Menghindarkan dari sebab-sebab khuruj dan pertumpahan darah.
Dari Syaqîq bahwa Usâmah bin Zaid ditanya : “ Tidakkah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara padanya…” Beliau berkata :
أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ ؟ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ
“Apakah kalian menganggap bahwa jika aku berbicara dengan beliau lantas aku harus memperdengarkannya kepada kalian? Demi Alloh! Saya telah berbicara empat mata dengan beliau. Tanpa perlu saya membuka suatu perkara yang saya tidak suka jika saya menjadi orang yang pertama kali membukanya.” ( Shahih Bukhari 6/3380 dan Shahih Muslim : 7674 ).
Syaikh Ibnu Baz berkata : ” Keluar di dalam demonstrasi dan unjuk rasa tidaklah baik, dan jika tidak baik maka dia adalah jelek, karena tidak ada di sana kecuali baik dan jelek “, beliau berkata : ” Dan dia bukanlah termasuk kebiasaan para sahabat Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukankah pada waktu ada kemungkaran-kemungkaran ?Bukankah pada waktu itu ada penyimpangan-penyimpangan ? Bukankah pada masa itu ada hal-hal yang menyelisihi syari’at Alloh dan hal-hal yang bertolak belakang dengan Kitabullah ? Ya, dan mereka tidaklah menuju kepada hal-hal itu semua dan tidaklah melakukannya walaupun yang lebih ringan dari hal itu semua “.
Beliau berkata : ” Sesungguhnya hanyalah nasehat, arahan, memerintah kepada yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, dan bekerjasama atas kebajikan dan taqwa, dan ini yang datang di dalam atsar Usamah bin Zaid di dalam nasehatnya kepada Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, empat mata dengannya, tanpa membuka pintu kerusakan dan pengrusakan, dan tanpa memprovokasi hati dan akal atas para waliyyul amr dari perkara-perkara yang merusak dan tidak memperbaiki, dari hal-hal yang membawa kejelekan dan tidak benar. ” ( Majalah Al-Furqon Kuwait Edisi 82 halaman 12 ).
Menyebabkan gangguan dan bahaya pada orang lain
Terkadang orang yang menasehati penguasa ini adalah orang yang pemberani yang mampu menanggung akibat yang terjadi meskipun pahit, akan tetapi jika dia menyampaikannya dengan terang-terangan maka terkadang akan membahyakan orang lain, karena sebagian penguasa akan membalas dendam atas setiap orang yang memiliki hubungan dengan orang yang menasihati dia dengan terang-terangan tersebut. Karena itulah wajib atas seorang penyeru kepada kebaikan agar merasa menyayangi umatnya sebagaimana kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya, inilah kebiasaan salaf di mana mereka menasehati penguasa tentang hak-hak rakyat seperti seorang bapak membela anak-anaknya, seperti pernah dilakukan oleh Sufyan bin ‘Uyainah terhadap seorang penguasa yang bernamaMa’n bin Zaidah, Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “ Sufyan bin ‘Uyainah masuk kepada Ma’n bin Zaidah ketika di Yaman, dan Sufyan tidak pernah terkotori oleh perkara kekuasaan sebelumnya, maka Sufyan menasehati Ma’n dan menyebutkan kepadanya perkara-perkara kaum muslimin, maka Ma’n mengatakan : “ Apakah kamu bapak mereka ?! apakah kamu bapak mereka ?! “. Dan Ma’n adalah seorang gubernur dari Khalifah l-Manshur. ( Lihat Al-Jarh wat Ta’dil 1/53 dan Masa’il Al-Imam Ahmad riwayat Shalih 1/240 ).
Kebiasaan para da’I politik yang menyandarkan kezhaliman-kezhaliman kepada para penguasa mereka dengan terang-terangan di hadapan rakyata akan membutakan rakyat dari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa mereka sendiri, sehingga mereka merasa bersih dari dosa dan tidak memperbaiki diri. Dan kapan seseorang buta dari dirinya maka dia telah fasiq, Alloh Ta’ala berfirman :
(((( (((((((((( ((((((((((( ((((((( (((( (((((((((((( ((((((((((( ( (((((((((((( (((( (((((((((((((( ((((
“ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik “ ( Al-Hasyr : 19 ).
Padahal tidak akan baik suatu kaum hingga mereka memperbaiki diri-diri mereka, Alloh Ta’ala berfirman :
( (((( (((( (( ((((((((( ((( (((((((( (((((( (((((((((((( ((( ((((((((((((( (
“ Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. “ ( Ar-Ra’du : 11 ).
Nasehat di hadapan umum akan menghalangi diterimanya nasihat tersebut.
Orang yang memberikan nasehat mengharapkan tiga perkara :
Pertama : Mendapatkan pahala di sisi Alloh.
Kedua : Dierimanya nasehat tersebut oleh orang yang dinasehati sehingga dia kembali kepada kebenaran.
Ketiga : Menyebarkan rahmat kepada manusia dengan mensucikan negeri dari kesalahan orang yang dinasehati tersebut.
Di dalam nasehat secara sembunyi-sembunyi kepada penguasa akan membantu mereka untuk menerima nasehat dan memudahkan mereka untuk memperbaiki perbuatan-perbuatan mereka, berbeda jika mereka dinasehati di hadapan umum maka akan menghalangi mereka dari taubat dan memperbaiki diri, bahkan terkadang membutakan mereka dari menerima kebenaran.
Demikian juga orang yang memberikan nasehat di hadapan khalayak ramai dikhawatirkan sia-sia amalannya karena ingin didengarkan dan dilihat sehingga menghilangkan keikhlasan.
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : “ Di antara kecerdasan yang jeli bahwa Engkau tidak membantah kesalahan orang yang memiliki banyak pengikut di hadapan umum, karena kedudukannya akan membawanya untuk membela kesalahan, dan itu adalah kesalahan yang kedua, akan tetapi hendaknya dengan sembunyi-sembunyi memberitahukan kepadanya hingga yang lainnya tidak ada yang tahu “ ( Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah hal. 58 ).
Nasehat di hadapan umum memftnah orang yang dinasehati sehingga dia tidak memandangnya kecuali pembeberan aib, Sulaiman Al-Khowwash berkata :
من وعظ أخاه فيما بينه وبينه فهي نصيحة ، ومن وعظه على رءوس الناس فإنما فضحه
“ Siapa yang menasehati saudaranya secara empat mata saja maka dia adalah nasehat, dan siapa yang menasehatinya di hadapan manusia maka sesungguhnya dia adalah pembeberan aib “ ( Al-Amru Bil Ma’ruf an Nahyu ‘Anil Munkar oleh Ibnu Abid Dunya hal.58 ).
Menghindarkan diri dari menjatuhkan kewibawaan penguasa.
Jika manusia terbiasa merndahkan penguasa dengan mencelanya dan menyebutkan kejelekannya maka akan jatuhlah kewibawaan penguasa tersebut, jika sudah hilang kewibawaannya maka rakyat akan lancang kepadanya dan melakukan hal-hal yang tidak baik akibatnya.
Dari Ziyad bin Kusaib Al-Asadi dia berkata : “ Aku bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang sedang berkhutbah dengan memakai pakaian yang tipis, maka Abu Bilal ( seorang Khowarij ) berkata : ‘ Lihatlah Amir kita ini memakai pakaian orang-orang yang fasiq !!’ , maka Abu Bakrah berkata : ‘ Diam kamu ! aku mendengar Rasulullah ( bersabda :
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ في الأرض أَهَانَهُ اللَّهُ
“ Siapa yang menghinakan penguasa Alloh dimuka bumi niscaya Alloh akan menghinakannya “ ( Diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Jami’nya : 2224 dan dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani di dalam Takhrij As-Sunnah 2/492 ).
Al-Imam Ibnu Jama’ah berkata “ Hak penguasa yang keempat : Hendaknya diketahui agungnya haknya dan apa yang wajib dari mengagungkan kedudukannya, sehingga dia diperlakukan dengan apa-apa yang wajib baginya dari pemuliaan dan penghormatan, dan apa yang Alloh berikan kepadanya dari pengagungan “ ( Tahrirul Ahkam hal. 20 ).
PENUTUP

Inilah yang bisa kami paparkan tentang kiat-kiat syar’I untuk mendapatkan pemimpin idaman, akhirnya semoga Alloh selalu memberi taufiq kepada kita kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, selalu menjaga kita dari kejelekan-kejelekan jiwa-jiwa kita dan amal-amal kita, dan semoga Alloh selalu memberikan hidayah kepada seluruh pemimpin kaum muslimin kepada agama yang lurus dan mempersatukan kalimat mereka di atas kebenaran. Amin.

والله أعلم بالصواب

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.