AGAR MENUNTUT ILMU MEMBAWA HASIL – IKHLASH DALAM MENUNTUT ILMU

AGAR MENUNTUT ILMU MEMBAWA HASIL

IKHLASH DALAM MENUNTUT ILMU

Sesungguhnya menuntut ilmu adalah sebuah ibadah bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan paling utama, sehingga Alloh menjadikannya sebagai bagian dari jihad fisabililah. Alloh berfirman :
ﭽ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﭼ
“ Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya “ (QS. At Taubah : 122).
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
من يرد الله به خيرًا يفقههُ في الدين
“Barang siapa yang di kehendaki oleh Alloh untuk mendapatkan kebaikan, maka akan di beri kefahaman dalam perkara agama” ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari : 71 dan Shahih Muslim : 1037 ).
Maka sesungguhnya yang paling berhak diperhatikan oleh seorang penuntut adalah membenahi niyatnya, selalu menjaga kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan, karena sesungguhnya ilmu hanyalah mendapatkan kemuliaan karena keberadaannya ikhlash karena wajah Alloh Ta’ala, adapun jika diniatkan untuk selainNya maka tidak keutamaan di dalamnya, bahkan dia adalah fitnah, bencana, dan akibat yang buruk. Dan sungguh telah diketahui bahwa diterimanya amalan tergantung kepada keikhlasannya dan kebenarannya sebagaimana Alloh berfirman :
ﭽ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﭼ
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus “ ( Al-Bayyinah : 5 ).
Jika seorang menuntut ilmu karena untuk mendapatkan dunia, maka sungguh dia telah berma’shiyat kepada Rabbnya, menyusahkan dirinya, membawa dosanya, dan tidak datang dunia kepadanya kecuali yang telah ditetapkan baginya.
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله ، لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضاً من الدنيا ، لم يجد عرف الجنة يوم القيامة
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat.”
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat.” ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 3/361, Ibnu Majah di dalam Sunannya 1/169, dan Ahmad di dalam Musnadnya 2/338 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/25 ).
Al-Hasan al-Bashri berkata : “Siapa yang mencari ilmu karena mengharap negeri akhirat, ia akan mendapatkannya. Dan siapa yang mencari ilmu karena mengharap kehidupan dunia, maka kehidupan dunia itulah bagian dari ilmunya.” az-Zuhri berkata, “Maka ilmu itulah bagian dari dunianya.” ( Iqtidha al-‘Ilmi al-‘Amal hal. 66 no. 103).

MENGAMALKAN ILMU

Tidak Mengamalkan Ilmu merupakan salah satu sebab hilangnya keberkahan ilmu. Allah Ta’ala mencela orang yang melakukan ini dalam firmanNya :
(((((( ((((((( ((((( (((( ((( (((((((((( ((( (( ((((((((((( (((
”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS.Ash-Shaff : 3).
Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu berkata :
لا تكون عالماً حتى تكون متعلماً ، ولا تكون بالعلم عالماً حتى تتكون به عاملاً
“Kamu tidak akan menjadi seorang ulama hingga kamu menjadi sorang penuntut ilmu (lebih dahulu), dan dengan ilmu pun kamu tidak akan menjadi seorang ulama hingga kamu mengamalkannya,
“Kamu tidak akan menjadi seorang ulama hingga kamu menjadi seorang penuntut ilmu (lebih dahulu), dan dengan ilmu pun kamu tidak akan menjadi seorang ulama hingga kamu mengamalkannya “ ( Diriwayatkan oleh Ad-Darimi di dalam Sunannya 1/100 dan dikatakan oleh pentahqiq ( Husain Salim Asad ) : Sanadnya Hasan ).
Adalah kebiasaan Salafush Shalih mengamalkan ilmu sehingga mereka mendapatkan predikat mulia dan diberkahi ilmu mereka, Abu Abdirrahman As-Sulami berkata :
حدثنا الذين كانوا يقرئوننا أنهم كانوا يستقرئون من النبي صلى الله عليه وسلم وكانوا إذا تعلموا عشر آيات لم يخلفوها حتى يعملوا بما فيها من العمل فتعلموا القرآن والعمل جميعاً
“ Telah menceritakan kepada kami para sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an kepada kami bahwa dahulu mereka mempelajarinya dari Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam dan adalah mereka jika mempelajari sepuluh ayat maka mereka tidaklah meninggalkannya hingga mereka mengamalkan apa yang didalamnya dari amalan maka mereka mempelajari Al-Qur’an dan amalan sekaligus “ ( Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 1/80 dan dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir ).

MENGAMBIL ILMU DARI GURU YANG TERPERCAYA

Sebagian penuntut ilmu merasa percaya diri bahwa dia mampu mengambil ilmu dari kitab-kitab tanpa merujuk kepada para ulama di dalam penjelasan ungkapan-ungkapannya dan menyelesaikan kerumitan-kerumitannya, mereka akhirnya menjauh dari para ulama, dan alangkah banyak kesalahan dan kontradiksi mereka.
Al-Imam Asy-Syafi’i berkata :
من تفقه من بطون الكتب ضيع الأحكام
“ Barangsiapa yang mendalami agama dari kitab-kitab maka dia akan menyiakan hukum-hukum “ ( Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal. 87 ).
Ibnu Buthlan berkata : “ Dalam kitab ada banyak hal yang bisa menghalangi seseorang mendapatkan ilmu, yang tidak terdapat pada guru, yaitu : kesalahan tulisan yang bisa timbul karena keserupaan huruf bersamaan dengan tidak dilafazhkan, kesalahan karena kesalahan pandangan mata, juga sedikitnya kemampuan dalam mengi’rob, kitab yang ada rusak atau sedang diperbaiki, atau ada tulisan yang tidak terbaca, juga membaca sesuatu yang tidak tertulis, serta tentang madzhab pengarang kitab, belum lagi jeleknya naskah dan jeleknya penukilan, bisa juga seorang pembaca mencampur adukkan antara satu alenia dengan lainnya, kerancuan dasar-dasar taklim, juga adanya lafazh-lafazh yang sudah menjadi istilah tersendiri dalam sebuah bidang ilmu tertentu yang belum dia fahami, atau ada beberapa lafazh asing Yunani yang belum diterjemahkan semacam lafadl Naurus. Semua ini bisa menghalangi seseorang dalam belajar ilmu, yang mana seorang pelajar sebenarnya bisa ringan mempelajarinya dengan bimbingan seorang guru. Dan kalau memang demikian, maka belajar pada seorang guru lebih bermanfaat dan lebih baik dari pada kalau belajar otodidak “ ( Syarah Al-Ihya’ 1/66 ).
Al-Imam Al Auza’i berkata :
كان هذا العلم كريماً يتلقاه الرجال بينهم، فلما دخل في الكتب، دخل فيه غير أهله
“Dulu ilmu ini mulia, yang terima oleh para ulama’ satu sama lainnya, namun tatkala sudah masuk ke kitab, maka orang-orang yang bukah ahlinya pun memasukinya “ ( Siyar A’lamin Nubala’ 7/114 ).

MENGAMBIL ILMU DARI ORANG YANG TUA

Pada zaman ini begitu meluas fenomena belajar ilmu dari orang-orang yang muda usianya di kalangan para penuntut ilmu, fenomena ini pada hakekatnya adalah penyakit yang kronis dan berbahaya, yang menghalangi penuntut ilmu dari yang dia cari, menghalangi dari jalan lurus yang membawa kepada ilmu,
Yang demikian itu karena dari orang-orang yang muda usianya, yang belum kokoh telapak kaki mereka, dan belum beruban jenggot mereka, padahal ada yang lebih tua dari mereka dan lebih kokoh telapak kakinya, ini akan melemahkan pondasi para pemula, dan meluputkan mereka dari mengambil faidah dari keilmuan para ulama kibar dan mengambil akhlaq mereka yang telah ditegakkan ilmu dan usia ( ‘Awaiquth Tholab hal. 8 ).
Abdullah bin Mas’ud ( berkata :
ولا يزال الناس بخير ما أخذوا العلم عن أكابرهم ، وعن أمنائهم ، وعلمائهم ، فإذا أخذوه عن صغارهم ، وشرارهم هلكوا
“ Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang tua mereka, dari orang-orang yang amanah dan para ulama mereka, jika mereka mengambil ilmu dari anak-anak muda mereka dan orang-orang terburuk dari mereka maka mereka akan binasa“ ( Diriwayatkan oleh Al-Khothib di Al-Faqih wal Mutafaqqih 2/372 dan Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd : 815 dan Abdur Rozzaq dalam Mushonnafnya 11/246 dengan sanad yang shohih ).
Telah datang hadits yang shahih dari Abu Umayyah Al-Jumahi bahwasanya Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر
“ Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiyamat dicarinya ilmu dari Ashaghir “ ( Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd : 60, Thobroni di dalam Mu’jam Al-Kabir 16’219 dan Mu’jam Al-Ausath 8/116 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Shahihah 2/316 ).
Umar bin Khaththab berkata :
قد علمت متى صلاح الناس ، ومتى فسادهم : إذا جاء الفقه من قبل الصغير استعصى عليه الكبير ، وإذا جاء الفقه من الكبير تابعه الصغير فاهتديا
“ Sungguh aku telah mengetahui kapan kebaikan manusia dan kapan kerusakan mereka, jika ilmu datang dari orang yang mudamaka dia akan ditentang oleh yang tua, dan jika ilmu datang dari orang yang tua maka dia akan diikuti oleh yang muda, sehingga keduanya mendapat petunjuk “ ( Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi : 1055 dan 1056 dengan sanad yang hasan ).

BELAJAR SECARA BERTAHAP

Tidak ada satupun dari para ulama yang berselisih tentang asas at-tadarruj yaitu belajar ilmu secara bertahap, karena dia adalah sarana untuk keberhasilan di dalam mengambil ilmu dan memahaminya, asas ini diambil dari firman Alloh Ta’ala :
ﭽ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭼ
“ Dan Al Quran itu Telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian “ ( Al-Isra’ : 106 ) dan firman Alloh Ta’ala :
ﭽ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﭼ
“ Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) “ ( Al-Furqon : 32 ).
Az-Zabidi berkata :
يجب أن لا يخوض في فن حتي يتناول الفن الذي قبله على الترتيب بلغته ويقضي منه حاجته فازدحام العلم في السمع مضلة الفهم
“ Wajib agar tidak masuk di dalam suatu bidang ilmu hingga dia telah mengambil bidang ilmu yang sebelumnya atas tahapan dengan bahasanya dan menyelesaikan hajatnya darinya, maka berdesakannya ilmu di dalam pendengaran akan menyesatkan pemahaman “ ( Syarah Al-Ihya’ 1/334 ).
Syaikh Abdussalam bin Barjas berkata : “ Tadarruj ( bertahap ) terjadi di dalam dua perkara :
Yang Pertama : Tadarruj di antara bidang-bidang ilmu.
Yang Kedua : Tadarruj di dalam satu bidang ilmu.
Kedua perkara ini mengikuti ijtihad para pengajar dan kondisi tempat, karena inilah maka sesungguhnya isyarat-isyarat para ulama berbeda-beda sesuai dengan perbedaan madzhab-madzhab mereka, dan tempat-tempat mereka “ ( Awaiquth Tholab hal. 11 ).
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “ Berikut ini beberapa perkara yang harus engkau perhatikan pada setiap bidang ilmu yang hendak engkau pelajari :
1.Menghafal kitab yang ringkas tentang ilmu tersebut
2.Menguasainya dengan bimbingan guru yang mumpuni
3.Tidak menyibukkan diri dengan kitab-kitab besar yang panjang lebar memperinci permasalahan sebelum menguasai pokok permasalahannya
4.Tidak pindah dari satu kitab ke kitab lainnya tanpa ada yang mengharuskan untuk melakukannya, karena ini termasuk sifat bosan
5.Mencatat faidah-faidah dan kaidah-kaidah ilmiyah
6.Membulatkan tekad untuk menuntut ilmu serta bertekad untuk selalu meningkat, sangat perhatian dan berambisi untuk bisa mencapai derajat yang diatasnya sehingga bisa menguasai kitab-kitab besar dan panjang lebar dengan sebuah jalan yang terpercaya “ Hilyah Thalibil ‘Ilmi hal. 26 ).

MENJAUHI ‘UJUB DAN SOMBONG

‘Ujub ( menilai baik diri sendiri ) dan kesombongan adalah kema’shiyatan kepada Alloh yang akan menghalangi dari ilmu syar’I, karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Alloh pancarkan pada hati siapa yang dia kehendaki dari para hambaNya, dan tidak akan terkumpul cahaya dan kegelapan di dalam sebuah hati, karena inilah maka Abdullah bin Mas’ud berkata :
إِنِّى لأَحْسَبُ الرَّجُلَ يَنْسَى الْعِلْمَ كَانَ يَعْلَمُهُ لِلْخَطِيئَةِ كَانَ يَعْمَلُهَا
“ Sesungguhnya aku menyangka seseorang melupakan ilmu yang sebelumnya dia mengetahuinya dengan sebab dosa yang dia melakukannya “ ( Sunan Darimi 1/419 ).
Semoga Alloh merahmati Al-Imam Asy-Syafi’i yang mengatakan :
شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي
وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يهدى لعاصي
“ Aku mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku, maka dia mengarahkan kepadaku agar meninggalkan kema’shiyatan-kema’shiyatan.
Dia mengkhabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Alloh tidak akan member petujunjuk kepada pelaku kema’shiyatan “( Diwan Al-Imam Asy-Syafi’I hal. 61 dan Al-Jami’ Liakhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ 5/58 )
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “ Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap kesombongan yang merupakan penyakit para diktator. karena sombong, iri dan dengki merupakan dosa pertama dalam bermaksiat pada Alloh Ta’ala. Keangkuhanmu pada gurumu adalah kesombongan, keangkuhanmu pada orang yang telah mengajarkan ilmu padamu hanya karena umurnya lebih muda dari pada engkau merupakan suatu kesombongan, engkau sembrono tidak mengamalkan ilmumu adalah lumpur kesombongan dan tanda diharamkan ilmu itu darimu “ ( Hilyah Thalibil ‘Ilmi hal. 15 ).
PENUTUP

Inilah yang bisa kami paparkan di dalam bahasan ini dari sebagian adab-adab di dalam menuntut ilmu , semoga bermanfaat bagi penulisnya, pembacanya, dan kaum muslimin semuanya. Amin

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.