Adab-Adab Berhari Raya ‘Iedul Fithri …

💐Adab-Adab Berhari Raya ‘Iedul Fithri …

✍Diantara kenikmatan Alloh kepada umat ini adalah adanya 2 hari raya.
Alloh berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (Romafhon) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”(Al-Baqoroh : 185)

Untuk mensyukuri nikmat ini berikut diantara adab-adabnya:

⏺Mengeluarkan zakat fithri

Ibnu ‘Umar berkata,
كَانُوا يُعْطُونَهَا قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Mereka (para sahabat) dahulu menyerahkan zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fithri.“ (HR. Bukhari dan Abu Daud).

⏺Sholat Iedul Fithri Di Lapangan Bersama Kaum Muslimin

Adab-Adabnya:
🌿Mandi Sebelum Berangkat
Disunnahkan mandi sebelum berangkat sholat ied, berdasarkan atsar-atsar berikut ini:
Dari Zadzan, seseorang bertanya kepada Ali tentang mandi, maka Ali menjawab: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia menjawab: “(maksudku) mandi yang benar-benar mandi?”
Ali menjawab: “Hari Jum’at, hari Arofah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” [HR. asy-Syafi’I dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` 1/176-177]

🌿Makan dulu sebelum sholat Iedul Fithri
Dari hadits Buraidah, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ»
“Rosululloh صلى الله عليه وسلم tidak berangkat sholat pada hari raya iedul fithri sebelum makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Iedul Adha sampai selesai sholat.” [HR. at-Tirmidzi no. 542, Dishohihkan al-Albani dalam Misykah al-Mashobih no. 1440]

🌿Mengenakan Pakaian Terbaik, Berhias diri, dan Memakai wewangian.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Rasululloh ثلى الله عليه وشلم biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.” [Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad,]

🌿Jalan kaki menuju lapangan sholat Ied

Ali bin Abi Tholib berkata:
مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا
“Termasuk perbuatan sunnah, kamu keluar mendatangi sholat ied dengan berjalan kaki”. [HR.At-Tirmidzy (2/410); dihasankan al-Albani] Abu ‘Isa At-Tirmidzy berkata, “Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ied dengan berjalan kaki”.

🌿Menuju lapangan sholat ied sambil bertakbir
Dari Abdulloh bin Umar:
“Rosululloh berangkat sholat pada dua hari Ied bersama al-Fadhl bin Abbas, Abdulloh bin Abbas, al-Abbas, Ali, Ja’far, al-Hasan, Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengucapkan tahlil dan takbir dengan mengangkat suaranya, beliau berangkat melewati jalan al-Haddadiin sampai tiba di lapangan sholat Ied. Ketika telah selesai beliau pulang melalui jalan al-Hadzdzaiin sampai tiba di rumahnya.” [HR. Ibnu Khuzaimah dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah 1/330 dan al-Irwa’ 3/123]

🌿Sholat Ied bersama kaum muslimin & mendengarkan khutbah.
Jamaah sholat Ied dipersilahkan memilih duduk mendengarkan khutbah atau tidak, berdasarkan hadits Abdulloh bin as-Sa’ib: aku melaksanakan sholat Ied bersama Rosululloh, ketika selesai sholat beliau bersabda:

«إِنَّا نَخْطُبُ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ»
“Kami berkhutbah, barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah maka duduklah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan pergi.” [HR. Abu Dawud Dishohihkan oleh Al-Albani dalam al-Irwa’ no. 629]

🌿Mengucapkan tahni’ah
Ibnu Hajar mengatakan: “Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.”

🌿Pulang melalui rute yang berbeda dari berangkat.
Dari Jabir bin Abdillah berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ»
“Nabi apabila di hari Id, beliau mengambil jalan yang berbeda.” [HR. Al-Bukhori no. 986]

⏺Saat Berhari raya.
🌿Saling mengunjungi karib kerabat saat Hari Raya.
Dari ‘Aisyah berkata:
“Rasulullah masuk ke kamarku saat aku bersama dua orang budak perempuan yang menyanyikan nyanyian Bu’ats. Lalu Rasulullah tidur miring di atas ranjang dan memalingkan wajahnya. Lalu Abu Bakar masuk dan menegurku, lalu berkata: ‘seruling syetan berada disisi Nabi?’.Rasulullah menghadap ke arah Abu Bakar dan berkata: ‘tinggalkan mereka!”
Dalam riwayat Hisyam bin Urwah disebutkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَا أَبَا بَكْرٍ إنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا , وَهَذَا عِيدُنَا
“Wahai Abu Bakar, sesunggunya setiap kaum mempunyai hari raya dan hari ini adalah hari raya kita”. (HR Al-Bukhory, 907; Muslim, 892)

Ibnu Hajar berkata,
“Abu Bakar mengunjungi Aisyah setelah Nabi masuk ke rumahnya saat hari raya”.(Fathul bari)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata tentang hukum tersebut, ‘Ada yang mengatakan, hendaknya dia mengunjungi kerabatnya, baik yang hidup maupun yang telah mati.’ Ada pula yang mengatakan, ‘Hedaknya bersilaturrahim.’ (Fathul Bari, 2/473)

🌿Boleh merayakan Hari raya dengan makan-makan, permainan dan bersenang-senang selama dalam batasan tidak melampaui perkara yang haram, seperti musik ataupun ikhtilat (campur) laki-laki dan wanita.
Anas berkata,
“Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Tidak mengapa membawa keluarga melakukan perjalanan darat mauupun laut, atau mengunjungi tempat-tempat yang indah, atau pergi ke tempat permainan yang dibolehkan, sebagaimana tidak dilarang mendengar nasyid yang tidak ada musiknya.

Dari A’isyah berkata,
“Hari itu adalah Hari Raya, orang-orang hitam sedang bermain-main dengan alat perang, entah aku yang meminta Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau dia yang berkata, ‘Engkau ingin melihat,’ Aku berkata, ‘Ya’. Lalu beliau menempatkan aku di belakangnya, pipiku menempel di pipinya, lalu dia berkata, ‘Lanjutkan permainan kalian wahai Bani Arfadah,’ dan ketika aku telah merasa bosan dia bertanya, ‘Sudah cukup?’ Aku berkata, ‘Ya’ Dia berkata, ‘Pergilah.’ (HR. Bukhari, no. 907 dan Muslim, no. 829)

Dalam sebuah riwayat, dari Aisyah dia berkata, ‘Rasulullah suatu hari berkata, ‘Agar orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kami terdapat kelapangan, sesungguhnya aku diutus dengan ajaran yang penuh toleran.” (Musnad Ahmad, 50/366, dinyatakan hasan oleh para ulama, dan Al-Albany menyatakan bahwa sanadnya bagus dalam silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 4/443)

Imam Nawawi mencantumkan hadits ini dengan judul ‘Bab Keringanan Dalam Permainan Yang Tidak Mengandung Maksiat Pada Hari Id.”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata,
‘Dalam hadits ini terkandung berbagai pelajaran; ‘Disyariatkannya memberi kelapangan rizki kepada keluarga pada hari-hari Id dengan berbagai macam bentuk yang dapat mendatangkan kesenangan jiwa dan ketenangan badan setelah lelah beribadah. Akan tetapi meninggalkan hal itu lebih utama.’
Dalam hadits ini juga terkandung ajaran bahwa menampakkan kegembiraan pada hari Id termasuk syiar agama. (Fathul Bari, 2/514)

Syekh Ibnu Utsaimin berkata,
“Yang dilakukan di tengah masyarakat saat Id juga adalah memberikan hadiah dan menghidangkan makanan dan saling mengundang, berkumpul dan bergembira. Ini merupakan adat yang tidak bermasalah, karena dilakukan pada hari Id. bahkan riwayat tentang masuknya Abu Bakar ke rumah Aisyah, dan seterusnya, padanya terdapat dalil bahwa syariat memberikan kemudahan dan keringan bagi hamba dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bergembira pada hari Id.
(Majmu Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 16/276)

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (14/166)
Sangat jelas petunjuk syariat yang memerintahkan untuk memberikan kelapangan bagi keluarga pada hari Id sehingga jiwa mereka tenang dan fisik mereka terhibur setelah letih beribadah. Sebagaimana menampakkan kegembiraan pada hari-hari Id merupakan syiar agama, begitu pula permainan dan ketangkasan pada hari Id, mubah hukumnya, baik di masjid atau lainnya, jika dilakukan sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah tentang permainan senjata di kalangan orang Habasyah.”
Wallohu a’lam

✏Diringkas dari ahkamul ‘idain dan yang lainnya

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒ 🌺..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.