Ushul Tsalatsah (Sesi ke-6): Penjelasan Tiga Jenis Tauhid

image

Pemateri: Ust. Abu Mundzir Al Ghifary

Alhamdulillah kita lanjutkan pembahasan kitab Ushulutstsalaatsah, sampai pada perkataan penulis:
Ketahuilah wahai Saudaraku, semoga Allah Azza wa Jalla membimbingmu untuk taat kepada-Nya.
Bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah agama yang menyeru manusia agar beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh ummat manusia dan hanya untuk itulah sebenarnya mereka diciptakan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala (artinya):
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS.Adz-Dzariyat: 56).

Ibadah, dalam ayat ini, artinya: tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata.
Sedangkan larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu: menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya. Allah ta’ala berfirman (artinya):
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS.An-Nisa: 36).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Semoga Allah membimbingmu untuk taat] 
Taat artinya menuruti apa yang dikehendaki dengan cara melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.

[Hanifiyyah]
Hanifiyah adalah sebuah millah yang meninggalkan kesyirikan dan dibangun di atas landasan keikhlasan kepada Allah ‘azza wa jalla

[Millah Ibrahim]
Millab Ibrahim adalah ajaran agama yang dianut oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

[Nabi Ibrahim] 
Ibrahim adalah kholilurrahmaan (kesayangan Alloh yang Maha Rohmaan). Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“… dan Alloh mengambil Ibrahim menjadi kesayangan- Nya (An-Nisa: 125)
Ia adalah abul ambiya, bapak para nabi. Berulang-ulang ajaran Nabi Ibrahim disebut dalam Al-quran, untuk dijadikan sebagai teladan yang diikuti.

[Anta’budallaha]
Anta’budallah: Hendaklah kamu beribadah kepada Allah adalah khobar anna dalam dalam perkataan penulis annalhanifiyyata (bahwa hanifiyyah itu).

Pengertian secara umum dari ibadah adalah:
Ketundukan kepada Allah yang dilandasi oleh cinta dan pengagungan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai dengan ketentuan syariat-Nya.
Adapun pengertian secara khusus dari ibadah adalah seperti yang telah dikatakan oleh Syaikhul lslam Ibnu Taimiyah:
Ibadah adalah sebuah nama yang maknanya meliputi seluruh ucapan dan tindakan yang dicintai Allah, baik yang bersifat lahir maupun bathin. Contohnya khouf, tawakal, shalat, zakat, puasa dan syaiat Islam yang lain.

[Ikhlas]
Arti ikhlas adalah at-tanqiyyah (membersihkan). Maksudnya, hendaklah seseorang melaksanakan ibadah dengan tujuan memperolah ridho Allah ta’ala dan mencapai negeri kemuliaan-Nya, dimana ia tidak beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya, tidak kepada malaikat yang terdekat kepada Alloh dan tidak pula kepada Nabi yang diutus oleh Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
Kemudian Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah millah Ibrahim yang hanif’. Dan ia bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah). (An-Nahl: 123)
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab:
“Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anakanaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama  ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 130-132)

Perintah untuk berada pada hanifiyyah
Allah memerintahkan semua manusia untuk berada pada hanifiyyah itu, yaitu beribadah kepada Alloh dengan
mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Dan untuk itulah Allah menciptakan manusia, Sebagaimana firman Allah [artinya]: Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak  ada ilah melainkan Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepada-Ku.
(Al-Anbiya: 25)
Allah ‘azza wa jalla juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk tujuan ini. Allah berfirman [artinya]:
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(Adz-Dzariyat: 56)
Maksudnya, tauhid merupakan salah satu makna ibadah, sebab di muka telah dijelaskan makna ibadah dan apa saja yang tercakup dalam penyebutan kata ibadah, dan dijelaskan pula bahwa ibadah itu lebih umum dari pada tauhid.

Ketahuilah,
Penghambaan itu ada dua macam :
1. Penghambaan Kauniyah, yaitu tunduk kepada perintah Alloh yang berkaitan dengan kejadian dan penciptaan.
Ketundukan semacam ini meliputi seluruh manusia. Tidak ada seorangpun yang keluar dari ketundukan ini.
Berdasarkan firman Alloh ta’ala [artinya] tidak seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Rahman, selaku seorang hamba (Maryam: 93)
Ayat ini meliputi orang mukmin maupun orang kafr, meliputi orang yang berbakti maupun orang yang berbuat dosa.
2. Penghambaan Syar’iyyah, yaitu kepatuhan kepada perintah Alloh yang berkaitan dengan syari’at. Ibadah ini hanya dilaksanakan oleh mereka yang menaati Allah ta’ala dan mengikuti syariat yang dibawa oleh para rosul.
Misalnya firman Allah ta’ala [artinya] dan hamba-hamba Allah Yang Maha Rahmaan adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati.
(Al-Furqaan: 63)
Manusia tidak dipuji karena melaksanakan pengambaan kauniyah karena itu tidak berkaitan dengan perbuatannya.
Hanya saja, kadang-kadang ia dipuji karena kesyukurannya ketika dalam keadaan senang dan kesabarannya ketika dalam keadaan diuji. Sedangkan pelaku ibadah syar’iyyah dipuji.

[Makna tauhid]
Secara bahasa, tauhid adalah mashdar dari fi’il waahhada yuwahhidu, artinya menjadikan sesuatu itu satu. Ini tidak terwujud kecuali dengan melakukan penafian dan penetapan. yaitu menafikan hukum dari selain yang ditauhidkan dan menetapkan hukum tersebut untuknya. Misalnya kita mengatakan, “Tidak sempurna tauhid seseorang, sehingga ia bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Alloh.” Artinya ia menafikan uluhiyyah dari selain Alloh ta’ala dan menetapkan aluhiyyah tersebut untuk-Nya semata. Adapun secara istilah, penulis telah mendefinisikan tauhid dengan perkataannya, tauhid adalah Mengesakan Allah dalam ibadah. Artinya hendaklah Anda beribadah hanya kepada Alloh, tidak mempersekutukan-Nya dengan seorang nabi yang diutus, seorang malaikat yang terdekat, seorang pemimpin, raja, atau siapa saja di antara manusia. Anda hanya beribadah kepada-Nya, diiringi rasa cinta, pengagungan, harapan,  dan kecemasan. Yang dimaksudkan oleh Syaikh adalah tauhid yang para rosul diutus untuk mewujudkannya, sebab tauhid tersebut adalah yang diabaikan oleh kaum mereka. Ada definisi tauhid yang lebih bersifat umum, yaitu mengesakan Allah dalam hal yang merupakan kekhususan bagiNya”.

[Jenis tauhid ada 3]

1. Tauhid Rububiyah
Yaitu Mengesakan Alloh ‘azza wa jalla dalam penciptaan, kekuasaan dan pemeliharaan. Allah berfirman [artinya]:
Allah menciptakan segala sesuatu. (Az-Zumar: 62)
“… adakah sesuatu pencipta selain Alloh yang dapat rnemberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi?Tidak ada ilah selain Dia …” (Fathir: 3)
‘Maha Suci Alloh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesaatu.'(Al-Mulk:1)
Ingatlah, rnenciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Alloh, Robb semesta alam” (Al-A’raf:54)

2. Tauhid Uluhiyah
Yaitu Mengesakan Allah dalam beribadah . Caranya, hendaklah seseorang tidak beribadah maupun bertaqorub kepada siapapun selain Allah,seperti ibadah dan taqorubnya kepada Alloh”.

3. Tauhid Asma Wa Sifaat
Mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam nama yang Dia namakan bagi diri-Nya dan sifat yang Dia sifatkan bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya atau melalui lisan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam. Pengesaan ini dengan cara menetapkan apa yang telah ditetapkan-Nya dan meniadakan apa-apa yang telah ditiadakan bagi-Nya
tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (peniadaan), takyif (penetapan bagaimananya) atau tamtsil (penyerupaan).

Tauhid yang dimaksud oleh Penulis di sini adalah tauhid uluhiyah. Berkenaan dengan tauhid inilah orang-orang musyrik tersesat, diperangi oleh Nabi, darah, harta, tanah, rumah, serta penawanan terhadap istri dan anak mereka dihalalkan. Dakwah yang disampaikan oleh para rosul kepada kaum mereka, kebanyakan berkenaan dengan tauhid uluhiyah ini. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]
Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada setiap umat (untuk menyerukan) ‘Beribadahlah kepada Allah saja’. (An-Nahl: 36)
Ibadah tidak boleh dilaksanakan kecuali kepada Alloh ‘azza wa jalla, Barangsiapa mengabaikan tauhid ini, maka ia berstatus musyrik dan kafir, meskipun mengakui tauhid rububiah dan tauhid asma wa shifat. Andaikata ada seseorang yang mengakui tauhid rububiah dan taahid asma’ wa shifat secara sempurna, tetapi ia mendatangi kuburan, beribadah kepada penghuninya atau bernadzar untuk memberikan sesaji kepadanya guna mendekatkan diri kepadanya, maka ia seorang musyrik dan kafir yang kekal di neraka. Allah ta’ala berfirman [artinya]:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (Al-Ma’idah: 72)
Tauhid merupakan perintah Alloh yang paling agung, karena ia merupakan pondasi tempat dibangunnya seluruh ajaran agama Islam. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memulai dakwahnya dengan tauhid dan memerintah para delegasi yang diutusnya agar memulai dakwah dengan tauhid.

[Syirik merupakan Larangan terbesar]
Larangan Allah yang paling besar adalah syirik. Sebab hak yang paling agung adalah hak Alloh ‘azza wa jalla .
Jika seseorang mengabaikannya, berartt ia telah mengabaikan hak yang paling agung yaitu pentauhidan Alloh ‘azza wa jalla. Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“… Sesungguhnya syirik itu merupakan kedzaliman yang
besar.” (Luqman: 13)
“… Barangsiapa mempersekutakan sesuatu dengan Alloh (musyik), maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang dzalirn itu seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72)
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An-Nisaa :48)
Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Dosa yang paling besar adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Allahlah yang telah
menciptakanmu. (HR. Bukhari dalam Kitabut Tauhid, HR. Muslim dalam Kitabul Iman)
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir radhiallahu’anhu:
Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah, sedangkan ia tidak mempersekutakan sesuatu dengan-Nya, maka ia masuk surga dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sedangkan ia mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka ia masuk neraka. (HR. Muslim dalam Kitabul Iman)
Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:
Barangsiapa mati, sedangkan ia menyeru kepada sekutu selain Allah, maka ia masuk neraka. (HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir)
Penulis rahimahullah menyimpulkan perintah Alloh untuk beribadah dan larangan-Nya terhadap perbuatan syirik, berdasarkan firman Alloh ‘azza wa jalla, beribadahlah kepada Alloh dan jangan mempersekutakan-Nya dengan sesuatupun. (An-Nahl:36)
Dalam ayat ini Alloh memerintahkan beribadah kepada-Nya dan melarang perbuatan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya (syirik). Ini mengandung perintah untuk beribadah hanya kepada-Nya.Barangsiapa tidak beribadah kepada-Nya, maka ia seorang yang kafir dan sombong. Sedangkan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya seraya beribadah kepada selain-Nya, maka ia seorang yang kafir dan musyrik. Adapun orang yang beribadah kepada Alloh saja, maka ia seorang muslim yang mukhlis.

Syirik ada dua macam: syirik akbar dan syirik ashghar.
Syirik akbar adalah setiap yang disebut syirik oleh Syari’ (Pemberi syariat), yang berkonsekuensi keluarnya seseorang dari agama. Sedangkan syirik asghar adalah setiap amal, baik yang betupa ucapan maupun tindakan yang disebut syirik oleh Syari’ akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari agama.
Manusia wajib berhati-hati dan syririk akbar maupun syirik ashghor. Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik” (An-Nisa’: 48)

Wallahua’lam.
Insyaa Allah bersambung pertemuan pekan berikutnya..
Baarakallahufiykum

Sesi Tanya Jawab

Toto Budiyono: Abu Rafli – Bekasi
Ustadz mengenai pembagian tauhid mjd 3 tersebut oleh sebagian saudara kita sering dipermasalahkan sebab nabi secara langsung tidak pernah mengajarkan demikian
Bagaimana cara menjelaskanya ustadz ?
Syukron

Jawab
PERTAMA: Maksud dari pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu mentauhidkan Allah dalam (1) Rububiyahnya, dalam (2) Uluhiyahnya, dan dalam (3) Asmaa dan SifaatNya.

– Tauhid ar-Rubuubiyah artinya Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang ikut nimbrung membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.

– Tauhid al-Uluhiyah: Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh untuk ikut serta disembah disamping penyembahan terhadap Allah.

– Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat: Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.

Jika kita bertanya kepada kaum muslimin secara umum tentang tiga makna tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas. Lantas kenapa harus ada pengingkaran jika maknanya disetujui dan disepakati..??

KEDUA: Tauhid asalnya tidaklah diterima kecuali tauhid yang satu. Karena asalnya (1) Rob yang berhak disembah adalah (2) Rob yang maha Esa dalam penciptaan, dan juga (3) Maha sempurna sifat-sifatnya. Jika ada Rob yang tidak maha esa dalam penciptaan atau tidak sempurna sifat-sifatnya maka dia tidak berhak untuk disembah. Karenanya asalnya bahwa tauhid tidaklah menerima pembagian. Ketiga makna tauhid di atas harus terkumpulkan menjadi satu. Lantas kenapa ada pembagian??!!

Makhluklah (yaitu kaum musyrikin) yang telah melakukan pembagian, sehingga mereka hanya mengimani dan mengerjakan sebagian dari makna tauhid.

Allah berfirman (artinya)
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)”. (QS Yusuf : 106)

Para salaf dan para ahli tafsir telah sepakat bahwa makna ayat ini adalah kaum musyrikin arab mengakui dan mengimani bahwasanya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengaturan, akan tetapi mereka berbuat kesyirikan dengan beribadah juga kepada selain Allah. (Silahkan baca kembali penjelasan panjang lebar disertai nukilan-nukilan dari salaf dan para mufassir di artikel ini “Persangkaan Abu Salafy Al-Majhuul Bahwasanya Kaum Musyrikin Arab Tidak Mengakui Rububiyyah Allah”

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin Arablah yang membagi tauhid kepada Allah, sehingga hanya mengimani sebagian tauhid (yaitu tauhid rububiyah) dan berbuat syirik dalam tauhid al-uluhiyah.

Allah juga berfirman (artinya)
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (QS Al-‘Ankabuut : 65)

Ayat ini menjelaskan bahwasanya dalam kondisi gawat kaum musyrikin mengesakan (tidak membagi) tauhid mereka sehingga ikhlas berdoa kepada Allah, akan tetapi tatkala mereka diselamatkan di daratan mereka kembali lagi melakukan pembagian tauhid dan menyimpang dalam tauhid al-uluhiyah.

Dan dalil-dalil yang menunjukkan akan keimanan kaum musyrikin terhadap tauhid ar-rububiyah sangatlah banyak, sebagaimana telah saya sampaikan pada link diatas.

Perhatikan: Syari’at tidak ingin tauhid dipisah-pisahkan, bahkan ingin agar tauhid merupakan seusatu yang satu kesatuan. Hanya saja timbul penyimpangan dari kaum musyrikin yang memecah dan membagi tauhid, dimana mereka beriman kepada sebagian makna tauhid dan mengingkari sebagian yang lain. Maka datanglah syari’at untuk meluruskan mereka sehingga menjelaskan dengan cara membagi antara keimanan mereka yang benar (tauhid ar-rububiyah) dan keimanan mereka yang salah dalam tauhid (yaitu tauhid al-uluhiyah). Sehingga sering kita dapati bahwasanya Al-Qur’an berhujjah dengan keimanan mereka terhadap tauhid ar-rububiyah agar mereka meluruskan tauhid mereka yang salah dalam tauhid al-uluhiyah. Seperti firman Allah (artinya)
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqoroh : 21-22)

Dalam ayat ini Allah berhujjah dengan pengakuan kaum musyrikin dan keimanan mereka terhadap Rububiyah Allah agar mereka juga mentauhidkan Allah dalam uluhiyah/peribadatan.

Intinya : Pembagian tauhid nampak dan muncul pada makhluk lalu datanglah syari’at berusaha memperbaiki dan meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang tauhid.Jadilah timbul pembagian tauhid dalam syari’at yang memiliki 2 fungsi, (1) dalam rangka penjelasan dan (2) dalam rangka menjaga tauhid dari kesalahpahaman.

KETIGA: Karenanya pembagian tauhid ini bukanlah penimbulan/pemunculan suatu makna baru yang tidak ada di zaman salaf, akan tetapi hanyalah pembaharuan dalam istilah atau metode penjelasan dan pemahaman. Karena kalau pembagian ini dikatakan bid’ah maka terlalu banyak penamaan dan pembagian yang kita hukumi sebagai bid’ah juga. Sebagai contoh misalnya pembagian para ulama bahwasanya hukum taklifi terbagi menjadi 5 (wajib, mustahab, mubah, makruh, dan haram). Tentunya pembagian ini tidak terdapat dalam pembicaraan sahabat. Akan tetapi setelah diteliti dalil-dalil yang ada jelas bahwa kesimpulan hukum-hukum taklifi tidaklah keluar dari 5 hukum tersebut.

KEEMPAT: Pembagian tauhid adalah perkara ijtihadiah, tergantung cara seorang mujtahid dalam meng “istiqroo’ dalil-dalil, sehingga berkesimpulan bahwa tauhid terbagi menjadi berapa?.

Karenanya kita dapati :

– Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja.

– Kita dapati juga ada sebagian orang yang membagi tauhid menjadi 4, seperti Ibnu Mandah yang membagi tauhid menjadi : (1) Tauhid Al-Uluhiyah, (2) Tauhid Ar-Tububiyah, (3) Tauhid al-Asmaa’, dan (4) Tauhid As-Sifaat.

– Demikian juga ada yang membagi tauhid menjadi empat dengan menambahkan tauhid yang ke (4) Tauhid Al-Haakimiyah.

Yang menjadi permasalahan bukanlah pembagian, akan tetapi content/isi dan kandungan dari pembagian tersebut, apakah benar menurut syari’at atau tidak??!! Inilah yang menjadi permasalahan, bukan masalah pembagian tauhid menjadi dua atau tiga atau empat, atau lebih dari itu.

KELIMA: Ternyata kita dapati para ulama terdahulu jauh sebelum Ibnu Taimiyyah- telah membagi tauhid menjadi tiga. Hal ini jelas membantah pernyataan mereka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kreasi Ibnu Taimiyyah rahimahullah di abad ke 8 hijriyah. Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh telah menukil perkataan para ulama salaf jauh sebelum Ibnu Taimiyyah yang membagi tauhid menjadi tiga. Diantara para ulama tersebut adalah :

(1) Al-Imam Abu Abdillah ‘Ubaidullahi bin Muhammad bin Batthoh al-‘Akburi yang wafat pada tahun 387 H, dalam kitabnya Al-Ibaanah.

(2) Al-Imam Ibnu Mandah yang wafat pada tahun 395 Hijriyah dalam kitabnya “At-Tauhid”.

(3) Al-Imam Abu Yusuf yang wafat pada tahun 182 H (silahkan merujuk kembali kitab al-qoul as-sadiid)

KEENAM: Ternyata kita juga dapati ahlul bid’ah juga telah membagi tauhid

Pertama: Kaum Asyaa’roh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara, ungkapan mereka adalah:
“Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.

Salah seorang ulama terkemukan dari Asyaa’iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :
“Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :

“Keesaan” dalam istilah kaum (Asyaa’iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :
“(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian.

(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya.

(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru.

(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni.聽 1/336-338)

Ulama besar Asya’iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :
“Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya” 

(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri ‘alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114)

Kedua: Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan dengan kaum muslimin ada 3 tingakatan, karena beliau membagi tauhid menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya orang-orang munafik.

Adapun tingkatan-tingkatan yang berikutnya :

(1) Tauhidul ‘awaam (Tauhidnya orang-orang awam)

(2) Tauhidul Khoosoh (Tauhidnya orang-orang khusus) dan

(3) Tauhid Khoosotil Khooshoh (Tauhidnya orang-orang super khusus)

Beliau rahimahullah berkata :
“Tauhid memiliki 4 tingkatan. Tingkatan pertama dari tauhid adalah seseorang mengucapkan dengan lisannya laa ilaah illallah akan tetapi hatinya lalai darinya atau mengingkarinya, sebagaimana tauhidnya orang-orang munafiq”

Lalu Al-Gozali menyebutkan 3 tingkatan tauhidnya kaum muslimin, ia berkata :

(1) Yang kedua: Yaitu ia membenarkan makna lafal laa ilaaha illallahu dalam hatinya sebagaimana pembenaran orang-orang awam kaum muslimin, dan ini adalah aqidahnya orang-orang awam

(2) Yang Ketiga: Yaitu dengan metode Kasyf (pengungkapan) dengan perantara cahaya Allah, dan ini adalah orang-orang muqorrobin(yang didekatkan), yaitu jika ia melihat sesuatu yang banyak akan tetapi ia melihatnya meskipun banyak- timbul dari dzat Yang Maha Satu Yang Maha Kuasa

(3) Yang Keempat: yaitu ia tidak melihat di alam wujud ini (alam nyata) ini kecuali hanya satu, dan ini adalah pengamatan orang-orang as-siddiqin. Dan kaum sufiah menamakannya al-fanaa dalam tauhid, karena ia tidaklah melihat kecuali satu, maka iapun bahkan tidak melihat dirinya sendiri. Dan jika ia tidak melihat dirinya dikarenakan tenggelam dalam tauhid maka ia telah sirna dari dirinya dalam mentauhidkan Allah, yaitu maknanya ia telah sirna tidak melihat dirinya dan tidak melihat makhluk” (Ihyaa ‘Ulumiddiin 4/245).

KETUJUH: Ternyata sebagian ulama Ahlul Kalaam juga mengenal istilah tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah.

Abu Mansuur Al-Maturidi (pendiri madzhab Al-Maturidiyah, wafat 333 H) dalam kitabnya At-Tauhid beliau berkata mengenai hal ini
(Kitaab At-Tauhid, Abu Manshuur Al-Maturidi, tahqiq : DR Muhammad Aruusi, Terbitan Daar Shoodir, Beirut, hal 86)

KEDELAPAN: Kenapa harus pengingkaran besar-besaran terhadap pembagian tauhid menjadi tiga?. Rahasianya karena pembagian ini menjelaskan akan bedanya antara tauhid Ar-Rububiyah dengan tauhid Al-Uluhiyah. Dan barangsiapa yang mengakui tauhid Ar-rububiyah akan tetapi beribadah kepada selain Allah maka ia adalah seorang musyrik. Inilah pembagian yang mereka ingkari, mereka hanya ingin pembicaraan tauhid hanya pada dua model tauhid saja, yaitu tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat.

Karena dengan dibedakannya antara tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah semakin memperjelas bahwa aqidah mereka tentang bolehnya berdoa kepada mayat-mayat penghuni kubur dan beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal adalah kesyirikan yang nyata !!!

Mereka tidak mempermasalahkan jika seandainya tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat, karena dalam buku-buku aqidah mereka ternyata memfokuskan pembicaraan pada dua model tauhid ini. Jika kita setuju pembagian tauhid hanya dua saja, maka bisa saja dikatakan ini adalah dualisme ketuhanan, sebagaimana penyembah dua dewa atau dua tuhan, dan ini juga kesyirikan. Sebagaimana trinitas adalah kesyirikan demikian juga dualisme ketuhanan juga terlarang

KESEMBILAN: Pembicaraan kaum Asya’iroh hanya terfokus dalam masalah tauhid Ar-Rububiyah, bahwasanya Allahlah satu-satunya pencipta.

Hal ini sangat nampak dari sikap mereka berikut ini

– Sebagian ulama mereka menafsirkan laa ilaah illallah pada makna rububiyah (Tidak ada yang mampu untuk menciptakan kecuali Allah).

Padahal yang benar dalam hal ism ahsan adalah bukanlah ism jamid (yaitu kata benda yang tidak berasal dari kata masdar yang bermakna), akan tetapi pendapat yang benar bahwasanya lafal .. adalah ism musytaq berasal dari kata … yang artinya … (sebagaimana … yang bermakna …), dan … maknanya adalah … “yang di sembah”. Sehingga makna yang benar dari laa ilaah illallah adalah “Tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah” (keterangan: ada beberapa karakter yang tidak terbaca dengan baik pada saat editing, akan disempurnakan InsyaAllah)

– Kita dapati kaum asyairoh dalam buku-buku aqidah mereka menyatakan bahwa (Yang pertama wajib bagi seorang mukallaf adalah pengamatan untuk meyakini adanya pencipta). Sehingga konsentrasi mereka adalah tentang penetapan akan adanya Tuhan Pencipta Yang Maha Esa dalam Penciptaan

Akibat dari salah penafsiran tentang laa ilaaha illallah ini akhirnya seseorang yang beristighotsah dan berdoa kepada selain Allah tidaklah terjerumus dalam kemusyrikan selama meyakini bahwa pencipta satu-satunya adalah Allah.

Karenanya kita dapati sebagian orang alim mereka (sebagian kiyai) terjerumus dalam kesyirikan atau membolehkan kesyirikan. Menurut mereka hal-hal berikut bukanlah kesyirikan :

– Berdoa kepada mayat, meminta pertolongan dan beristighotsah kepada mayat bukanlah kesyirikan, selama meyakini bahwa mayat-mayat tersebut hanyalah sebab dan Allahlah satu-satunya yang menolong

– Jimat-jimat bukanlah kesyirikan selama meyakini itu hanyalah sebab, dan yang menentukan hanyalah Allah. Karenanya kita dapati sebagian kiyai menjual jimat-jimat

– Bahkan kita dapati sebagian kiyai mengajarkan ilmu-ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu sihir. Karena selama meyakini itu hanyalah sebab dan Allah yang merupakan sumber kekuatan maka hal ini bukanlah kesyirikan.

– Sebagian mereka juga membolehkan memberikan sesajen atau tumbal kepada lumpur lapindo atau kepada gunung yang akan meletus, karena menurut mereka hal itu bukanlah bentuk kesyirikan kepada Allah.

Faidah dari Ust. FIRANDA Hafidhahullahuta’aala.
Wallahua’lam.

PERTANYAAN KE-2
Hery Wahyu Abu Nazhifa
Ustadz apabila kita memfaforitkan sebuah angka2.,seperti angka ganjil contohnya, setiap kita melakukan suatu hal pasti dipaskan di bilangan ganjil, hal tersebut apakah merupakan syirik? jika syirik termasuk syirik yang akbar ataukah syirik ashghar?

Jawab 
Kalo dia masih meyaqini bahwa Allah yg mengatur menetapkan taqdir semuanya itu maka ini merupakan syirik ashghor.
Tapi jika keyaqinannya penuh bersandar hanya kpd angka-angka atau barang-barang yang dikeramatkan itu saja tanpa adanya keyaqinan bahwa yg mnetapkan semua itu adalah Allah Azza wa Jalla maka ini masuk pada syirik akbar.
Hal ini sbagaimana pmbahasan tathoyur/tiyaroh.
Biarpun pd awalnya melakukan perkara2 yg masuk syirik ashghor tetapi hal itu merupakan dosa besar yg tentu saja dapat mnyeret pelakunya hingga mnjadi syirik akbar.
Waspadalah !!

Jika dia hanya kesukaan saja semisal kita menyukai warna pakaian atau benda-benda yang sifatnya mubah tentu tidak masalah, tapi jika sudah mulai kemasukan adanya keyaqinan dalam hati bahwa angka tersebut bisa mendatangkan mashlahat/mudharat maka ini yang ada 2 hukumnya di atas.
Wallahua’lam.

image from here

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.