Merenungi kembali Al-Qur’an…

💧 Merenungi kembali Al-Qur’an…

✍Allah berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”(An-Nisa: 82)

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,
Allah memerintahkan kepada mereka untuk memperhatikan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an, juga melarang mereka berpaling darinya dan dari memahami makna-maknanya yang muhkam serta lafaz-lafaznya yang mempunyai paramasastra yang tinggi.
Allah memberitahukan kepada mereka bahwa tidak ada pertentangan, tidak ada kelabilan, dan tidak ada perbedaan di dalam Al-Qur’an karena Al-Qur’an diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
Al-Qur’an adalah perkara yang hak dari Tuhan Yang Mahabenar.
Karena itulah dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?
(Muhammad [47]: 24)
Kemudian Allah
berfirman:
Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah.

Seandainya Al-Qur’an itu dibuat-buat sendiri, seperti yang dikatakan oleh sebagian kaum musyrik dan kaum munafik yang bodoh dalam hati mereka.
tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Yaitu niscaya dijumpai banyak pertentangan dan kelabilan.
Dengan kata lain, sedangkan Al-Qur’an itu ternyata bebas dari pertentangan, hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu dari sisi Allah.
Seperti yang disebutkan oleh Allah dalam ayat yang lain, menyitir perkataan orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu melalui firman-Nya:
Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.
(Ali ‘Imran : 7)
Baik yang muhkam maupun yang mutasyabih, semuanya benar.
Karena itulah mereka mengembalikan (merujukkan) yang mutasyabih kepada yang muhkam, dan akhirnya mereka mendapat petunjuk.
Sedangkan orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengembalikan yang muhkam kepada yang mutasyabih, akhirnya mereka tersesat.
Karena itulah dalam ayat ini Allah memuji sikap orang-orang yang mendalam ilmunya dan mencela orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.

Dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan bahwa ia dan saudaranya duduk di sebuah majelis yang lebih ia sukai daripada memiliki ternak unta yang unggul. Ketika dia dan saudaranya telah berada di dalam majelis itu, tiba-tiba beberapa sesepuh dari kalangan sahabat Nabi ﷺ berada di sebuah pintu dari pintu-pintu yang biasa dilalui oleh Nabi ﷺ Maka kami tidak suka bila memisahkan di antara mereka, hingga kami terpaksa duduk di pinggir.
Saat itu mereka sedang membicarakan suatu ayat dari Al-Qur’an, lalu mereka berdebat mengenainya hingga suara mereka saling menegang.
Maka Rasulullah ﷺ keluar dalam keadaan marah hingga roman wajahnya kelihatan merah, lalu beliau menaburkan debu kepada mereka yang berdebat itu dan bersabda: Tenanglah hai kaum, karena hal inilah umat-umat terdahulu sebelum kalian binasa, yaitu karena pertentangan mereka dengan nabi-nabi mereka dan mengadu-adukan sebagian dari isi Al-Ki-tab dengan sebagian yang lain.
Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan untuk mendustakan sebagian darinya terhadap sebagian yang lain.
Tetapi ia diturunkan untuk membenarkan sebagian daripadanya terhadap sebagian yang lain.
Karena itu, apa yang kalian ketahui dari Al-Qur’an, amatkanlah ia, dan apa yang kalian tidak mengerti darinya, maka kembalikanlah kepada yang mengetahuinya. (HR Ahmad, Muslim dan An-Nasai)
(Tafsir Ibnu Katsir)

Berkata Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi,
Sesungguhnya mentadabburi kitab Allah merupakan kunci bagi semua ilmu, dengannya diperoleh semua kebaikan dan daripadanya digali berbagai macam ilmu, dan dengannya bertambah keimanan di hati. Semakin bertambahnya tadabbur seseorang terhadap Al Qur’an, maka semakin bertambah pula ilmu, amal dan bashirah (ketajaman pandangan)nya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita mentadabburi firman-Nya dan memberitahukan bahwa untuk itulah Al Qur’an diturunkan, Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Terj. Shaad: 29).
Di antara faedah mentadabburi kitab Allah adalah seseorang dapat mencapai derajat yakin, mengetahui bahwa kitab tersebut adalah firman Allah, karena ayat yang satu dengan yang lain bersesuaian dan saling membenarkan. Kita dapat melihat tentang hukum, kisah dan berita yang diulang di beberapa tempat dalam Al Qur’an, semuanya sesuai dan saling membenarkan; tidak saling membatalkan. Dengan ini dapat diketahui kesempurnaan Al Qur’an dan bahwa ia berasal dari Allah Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
(Aisarut Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi)

📌Inilah zamannya yang tepat untuk kembali merenungi ayat ini.
Dikarenakan semakin menipisnya keimanan kepada Al-Qur’an dan semakin menjauhnya generasi Islam dari petunjuk Al-Qur’an.
Di penghujung Ramadhan yang merupakan Syahrul Qur’an saat yang tepat untuk kembali kepada Al-Qur’an.
Kembali kepada rambu-rambu dan manhaj Al-Qur’an.
Jangan sampai kita menyesali di belakang hari saat diangkatnya Al-Qur’an dari permukaan bumi ini, dikarenakan Al-Qur’an diacuhkan dan tidak dibutuhkan.
Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.✨…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.