📒 *Pandangan yang adil dalam masalah…*

📒 *Pandangan yang adil dalam masalah…*

*Jangan tergiur karena banyak dan jangan pula minder karena sedikit…!*

✍Banyak itu tidak mesti benar.
Dan sedikit pun juga begitu.
Pola pikir seperti itu adalah pola pikir jahiliyyah.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38).

Berkata Syaikh Bin Baz,

ﺃﻳﻬـــــــــــﺎ ﺍﻟﻌﺎﻗــــــــــــﻞ
ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻟﻨﻔﺴﻚ ﻭﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺇﻥ ﺗﺮﻛﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺍﻟﺤﺬﺭ ﻣﻤﺎ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺇﻥ ﻓﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ .
ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ( ﻭﺇﻥ ﺗﻄﻊ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻳﻀﻠﻮﻙ ﻋﻦ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ).
ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺴﻠﻒ :
“ﻻﺗﺰﻫﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻖ ﻟﻘﻠﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ ﻭﻻﺗﻐﺘﺮ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ ﻟﻜﺜﺮﺓ ﺍﻟﻬﺎﻟﻜﻴﻦ “.
Wahai orang yang berakal, perhatikanlah dirimu dan berpeganglah dengan kebenaran walau orang-orang meninggalkan dirimu,
Jauhilah apa yang Allah larang walau orang-orang melakukannya.
Allah berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.[Al-An’am: 116]

Sebagian salaf berkata:
Janganlah kamu merasa minder dalam kebenaran lantaran sedikitnya yang menempuhnya, dan janganlah kamu terperdaya dengan kebatilan karena banyaknya orang-orang yang binasa.”(Fatawa Ibnu Baz 2/147)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.[Al-An’am: 116]
“ AllahTa’ala mengabarkan kondisi kebanyakan penduduk muka bumi dari anak keturunan Adam, sesungguhnya (mereka berada) dalam kesesatan”. [Tafsiru al-Qur`anil-‘Azhum, 3/322].
Kesesatan mereka dikarenakan pijakan mereka dalam menilai sesuatu itu hanya berdasarkan kuantitasnya saja, yaitu mengiku selera dan hawa nafsu sehingga tidak mengembalikan ukuran yang adil, berasal dari sumber yang haq yaitu Kalam Allah dan sabda Rasul-Nya.

Banyak manusia yang silau dengan jumlah yang banyak, terutama didalam medan dakwah ini. Mereka memandang benar dan berhasilnya dakwah itu jika pengikutnya banyak. Padahal keberhasilan dakwah bukan dilihat dari banyaknya pengikut yang berhasil direkrut.
Nabi yang diutus Allah ada yang hanya punya pengikut satu orang atau tidak punya pengikut sama sekali.
Rasulullah bersabda,

مَا صُدِّقَ نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ مَا صُدِّقْتُ، إِنَّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ مَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُ مِنْ أُمَّتِهِ إِلاَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ
“Tidaklah seorang Nabi diantara para Nabi dibenarkan sebagaimana aku dibenarkan, sesungguhnya diantara para Nabi ada yang tidak dibenarkan oleh ummatnya kecuali hanya oleh satu orang.”[Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 16/26 dishohihkan Al-albany dalam silsilah As-Sohihah 1/684]
Dan ada pula Nabi yang tidak punya pengikut sama sekali.
Nabi bersabda,

…عرضت علي الأمم، فرأيت النبي و معه الرهط، والنبي و معه الرجل والرجلان والنبي ليس معه أحد
“Diperlihatkan kepadaku umat-umat, lalu aku melihat seorang Nabi bersamanya beberapa orang, dan seorang Nabi bersamanya seorang dan dua orang, dan seorang Nabi tidak ada bersamanya seorangp.”.[HR Al-Bukhory, Muslim]

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata,
وفي الحديث دليل واضح على أن كثرة الأتباع وقلتهم ، ليست معيارا لمعرفة كون الداعية على حق أو باطل ، فهؤلاء الأنبياء عليهم الصلاة والسلام مع كون دعوتهم واحدة ، ودينهم واحدا ، فقد اختلفوا من حيث عدد أتباعهم قلة وكثرة
“Kandungan hadits menunjukkan dalil yang tegas bahwa banyak dna sedikitnya pengikut bukanlah tolak ukur untuk mengetahui apakah seorang dai di atas kebenaran atau di atas kebatilan. Mereka para nabi saja, dawakh dan agama mereka satu (sama), akan tetapi berbeda dalam jumlah pengikut mereka.”[As-Silsilah ash-Shahihah 1/684]
Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🔥..🎗

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.