💧Amalan yang paling baik …

💧Amalan yang paling baik …

Amal yang terbaik itu adalah Amal antara yang Ikhlas dan mengikuti Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم…

✍Banyak manusia yang tertipu dengan amalan yang banyak secara kuantitas.

Padahal amalan yang paling baik itu tidak ditentukan dengan kuantitas jumlah.
Sebagaimana yang Alloh nyatakan tentang amal orang-orang kafir yang banyak ternyata hanya sia-sia,

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا * وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa.
Dan kami datangkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
[Al-Furqan 22 – 23]

Makna “Hijran mahjuuran'” sebagaimana kebiasaan mereka di dunia apabila mereka tertimpa kesengsaraan mereka mengatakan itu, artinya: lindungilah kami di tempat perlindungan. Mereka pada hari itu meminta perlindungan kepada Malaikat.

Dan amal yang paling baik adalah amal yang telah Alloh tetapkan dalam firmannya,

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور.
“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(Al-Mulk:2)

Imam al-Baghawiy mengatakan, ”Diriwayatkan dari Ibnu ’Umar secara marfu’; bahwasanya, yang dimaksud dengan ”ahsanu ’amalan” (sebaik-baik perbuatan)  adalah sebaik-baik akalnya, se-wara’-wara’nya dari larangan Allah, dan secepat-cepatnya menuju ketaatan kepada Allah.
[Ma’aalim al-Tanziil (Tafsir al-Baghawiy), juz 8, hal. 176, Imam al-Baghawiy]

Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Berdasarkan ayat ini, ada orang yang berpendapat bahwa, kematian adalah amr wujudiy (perkara yang bersifat wujudiy), dikarenakan ia adalah makhluk. Makna ayat ini adalah, sesungguhnya Allah swt menciptakan makhluk dari ketiadaan untuk menguji mereka, siapa yang paling baik amalnya.  Sebagaimana firman Allah,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?[Al Baqarah: 28]

Dari Qatadah mengenai firman Allah,
“alladziy khalaqa al-maut wa al-hayaah”, ia berkata,
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Alla menundukkan manusia dengan kematian, dan menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan, lalu menjadikannya sebagai tempat kematian.  Dan Allah menjadikan akherat sebagai negeri pembalasan, dan kemudian negeri yang kekal abadi”.[HR. Imam Thabariy dari Ma’mar].
Sedangkan maksud firman-Nya,
“liyabluwakum ayyukum ahsan ‘amalan”, adalah, “paling baik amalnya”, sebagaimana kata Mohammad bin ‘Ajlaan, “Allah tidak menyatakan siapa yang paling banyak amalnya”.
Lalu Allah berfirman, “Wa huwa al-‘aziiz al-ghafuur”, maksudnya adalah, Dialah Allah Yang Maha Perkasa, Maha Agung, Maha Kuat, dan Maha Mulia; dan Dia Maha Pengampun kepada siapa saja yang bertaubat dan kembali kepadaNya, setelah ia bermaksiyat dan menyelisihi perintahNya.  Walaupun Allah Maha Perkasa, namun demikian Ia Mengampuni, Mengasihi, dan Memaafkan.”[Tafsir Al-Qur’anil Adhim,, juz 8, hal. 176, Imam Ibnu Katsir]

Al-Hafidz Al-Suyuthiy metuturkan riwaya berikut ini;

وأخرج ابن أبي الدنيا والبيهقي في شعب الإِيمان عن السدي في قوله : { الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملاً } قال : أيكم أحسن للموت ذكراً ، وله استعداداً ، ومنه خوفاً وحذراً .
“Ibnu Abi al-Dunya dan Imam Baihaqiy di dalam Kitab Sya’b al-Iman mengeluarkan sebuah riwayat dari al-Sudiy tentang firman Allah,
“Al-ladziy khalaq al-maut wa al-hayah liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan”,
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Siapa diantara kalian yang paling baik mengingat kematian, dan ia memiliki persiapan-persiapan untuk menghadapi kematian, dan terhadap kematian ia takut dan berhati-hati”. [HR. Abi al-Dunya dan Imam Baihaqiy]
[Durr al-Mantsuur, juz 10, hal. 66, Imam al-Suyuthiy]

Imam Fudlail bin ’Iyadl mengatakan, ”ahsanu ’amalan” adalah ”yang paling ikhlash” dan yang paling benar”.
Ia berkata, ”Perbuatan tidak akan diterima hingga amal itu ikhlash dan benar.
Ikhlash adalah jika amal itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan benar adalah jika amal itu sesuai dengan sunnah Nabi”. [Tafsir Al-Qur’anil Adhim,, juz 8, hal. 176, Imam Ibnu Katsir]

📌Dan amalan seperti ini hanya muncul dari orang yang beriman dan bertakwa, serta lurus aqidah dan manhajnya.

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🌺..💐

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.