💧 Biar nikmat tidak menjadi petaka …

💧 Biar nikmat tidak menjadi petaka …

✍Syukur adalah ibadah dan merupakan perwujudan ketaatan atas perintah Allah. Allah berfirman,

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (Al Baqarah: 152)

Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (Al Baqarah: 172).

Semua nikmat itu datangnya dari Allah, dan tidak mungkin bisa dihitung kenikmatan itu karena banyaknya.
Allah berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya” (An Nahl: 18).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata,
“Nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat iman. Dia adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan kebaikan, berkurang dengan kefasikan dan kemaksiatan. Setiap kali bertambah amal seseorang, bertambah pula keimanannya. Inilah iman yang hakiki yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

هدنا الصِّرَاط الْمُسْتَقيم صِرَاط الَّذين أَنْعَمت عَلَيْهِم
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.” (Al-Fatihah: 6-7)

Adapun nikmat dunia,
Di dalamnya terdapat dua pendapat ulama di kalangan kami dan selainnya. Kesimpulannya adalah bahwa di merupakan nikmat dari satu sisi, meskipun bukan nikmat sempurna dari semua sisi. Adapun nikmat agama dan orang yang melaksanakan apa yang diperintah dan meninggalkan apa yang dilarang, maka padanya terdapat kebaikan seluruhnya. Itulah nikmat yang hakiki menurut Ahlussunnah. Karena menurut mereka bahwa Allah-lah yang memberikan kebaikan seluruhnya.” (Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriah, no. 268)

Mensyukuri nikmat Allah dapat dirupakan dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Allah berjanji bahwa akan melipatgandakan karunianya kepada orang-orang yang senantiasa bersyukur. Sedangkan orang-orang yang kufur nikmat dan selalu merasa kurang maka hidup mereka tidak diberkahi oleh Allah.
Allah telah menjelaskan keutamaan bersyukur dalam firmannya:

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim : 7)

Tarkala nikmat yang tidak disyukuri, bahayanya dapat mengantarkan kepada malapetaka.
Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj berkata,

كُلُّ نِعْمَةٍ لا تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ فَهِيَ بَلِيَّةٌ
“Setiap nikmat yang tidak menjadikan semakin dekat kepada Allah, maka hal tersebut adalah petaka.” [Asy-Syukr Lillah, Ibnu Abid Dunya]

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

  ✏📚✒.🎗 ...

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.