💥Sudah Dibagi, Jangan Hasad, Jangan Khawatir!🍒

💥Sudah Dibagi, Jangan Hasad, Jangan Khawatir!🍒

🍃Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:
…نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…
” Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ” (QS. Az-Zuhruf: 32).
Qotadah –Rohimahulloh- ketika mengomentari ayat di atas berkata: “kamu dapati seseorang kurang cekatan, tidak pandai bicara, tetapi diberikan kelapangan rizki, dan kamu dapati juga seseorang sangat cekatan, pandai bicara, tetapi sempit rizkinya … sebagaimana Alloh telah menentukan bentuk rupa dan akhlak mereka…” (lihat: Tafsir Ath-Thobari 20/584-585, dan Ash-Shohih Al-Masbur Minat-Tafsiri Bil-Ma”tsur 4/302).
Alloh telah menentukan rizki bagi setiap hambaNya, masing-masing mendapatkan jatahnya, dan itu sudah menjadi sunnatulloh, jadi seorang hamba tidak perlu hasad dengan pendapatan orang lain, Alloh Maha Bijaksana, menjadikan ini kaya itu miskin, ini penjual bakso itu penjual tahu tempe, ini petani itu pengepul beras, dan sebagaianya, yang terpenting halal dan berbarokah buat perutnya dan anak istrinya.

🌴Ibnu Mas’ud –Rodhiallohu ‘Anhu- berkata: “sesungguhnya Alloh Ta’ala telah menentukan Akhlak (masing-masing) di antara kalian, sebagaimana telah menentukan rizki (masing-masing) di antara kalian, dan Alloh Ta’ala memberi harta kepada orang yang Ia cintai dan orang yang tidak Ia cintai, tetapi Ia tidaklah memberi Iman kecuali kepada yang Ia cintai saja…” (Az-Zuhd li ibni-Mubarok hal. 399 no. 1134 –min ziyadat al-husain al-marwazi-, Al-Adab Al-Mufrod 1/144 no. 275, Az-Zuhd li Abi dawud hal. 149 no. 157, dan Al-Mu’jam Al-Kabir 9/229 no. 8990).
Semoga kita termasuk hamba yang diberikan keimanan oleh Alloh (tanda cintaNya), sehingga denganya kita berusaha mendapatkan yang halal dan berbarokah, dan sekali lagi jangan hasad, jangan khawatir, masing-masing dapat bagian yang telah ditentukan.

🌱Catatan: Hadits Ibnu Mas’ud di atas sebenarnya diriwiyatkan secara marfu’ (disandarkan kepadai nabi shollallohu ‘alaihi wasallam) dan mauquf (hanya disandarkan kepada sahabat –dalam hal ini Ibnu Mas’ud-), akan tetapi penulis memilih mencantumkan yang mauquf karena riwayat mauquf lebih kuat (lihat: ‘Ilal Ad-Daruquthni 5/269-271 no. 872, Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah 2/837 no. 1401, As-Silsilah Ash-Shohihah 6/482-484, dan Ahadits Mu’allah Dhohiruha Ash-Shihhah hal. 282-284 no. 308).
🍃By: Ust Hasan Irsyad, mahasiswa S2 UIM

🌴..🌱🍃💥🍒💥🍃🌱..🌴

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.