💡 SYARAH HADITS KE 25 ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

💡 SYARAH HADITS KE 25
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

الحديث الخامس والعشرون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

📗 Hadits Ke 25:

الحديث الخامس والعشرون: فضل الذكراستماع:

 

عن أبي ذر  أيضاً، أن ناساً من أصحاب رسول الله  قالوا للنبي : يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور؛ يُصلُّون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويـتـصـدقــون بفـضـول أمـوالهم. قـال : { أولـيـس قـد جعـل الله لكم ما تصدقون؟ إن لكم بكل تسبيحة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة، وفي بضع أحـد كم صـدقـة }.

قالوا : يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟

قال: { أرأيتم لو وضعها في حرام، أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال، كان له أجر }.

[رواه مسلم].

 

Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu juga, bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pahala (yang banyak), mereka shalat bagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan hal yang ma’ruf adalah sedekah. Dan salah seorang dari kalian melampiaskan syahwatnya kepada istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah pada hal itu ia akan mendapat balasan pahala?” Beliau balik bertanya, “Bagaimana menurut pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada hal yang haram, apakah ia akan terkena dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan pada hal yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala.”
(H.R. Muslim)

الشرح:

يعني بالإضافة إلى الحديث السابق القدسي أن أناساً من أصحاب رسول الله  قالوا للنبي  { يا رسول الله } وهؤلاء فقراء، قالوا: { يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور } يعني أهل الأموال ذهبوا بالأجور، يعني اختصموا بها.

{ يُصلُّون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم } فهم شاركوا الفقراء في الصلاة والصوم وفضولهم في الصدقة.

قال النبي : { أوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون… } إلخ.

Penjelasan:

Yakni berkaitan dengan hadits qudsi yang sebelumnya, bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah dan mereka ini adalah orang-orang faqir, bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa banyak pahala, -yakni hanya mereka saja yang membawanya- mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka.” Meeka dengan orang-orang miskin sama-sama mengerjakan shalat dan puasa, akan tetapi orang-orang kaya tersebut bersedekah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan?. . . . dan seterusnya.”

لما اشتكى الفقراء إلى رسول الله  أنه ذهب أهل الدثور بالأجور يصلون كما يصلون ويصومون كما يصومون ويتصدقون بفضول أموالهم يعني والفقراء لا يتصدقون. بيّن لهم النبي  الصدقة التي يطيقونها فقال: { أوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون به، إن لكم بكل تسبيحة صدقة } يعني أن يقول الإنسان سبحان الله صدقة { وبكل تكبيره صدقة } يعني إذا قال: ( الله أكبر ) فهذه صدقة { وكل تحميده صدقة } يعني إذا قال: ( الحمد لله ) فهذه صدقة { وكل تهليلة صدقة } يعني إذا قال: ( لا إله إلا الله ) فهذه صدقة { وأمر بالمعروف } يعني إذا أمر شخصاً أن يفعل طاعة فهذه صدقة { ونهي عن منكر } يعني إذا نهى شخصاً عن منكر فإن ذلك صدقة { وفي بضع أحدكم صدقة } يعني إذا أتى الرجل زوجته فإن ذلك صدقة وكل له فيها أجر ذكروا ذلك لتقرير قوله  { وفي بضع أحدكم صدقة } وليس للشك في هذا، لأنهم يعلمون أن ما قاله النبي  فهو حق لكن أرادوا أن يقرروا ذلك فقالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر ؟ ونظير ذلك قول زكريا عليه السلام:  قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ  [آل عمران:40] … أراد أن يقرر ذلك ويثبته مع أنه مصدق به.

قال: { أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ } والجواب: نعم يكون عليه وزر قال: { فكذلك إذا وضعها في حلال كان له أجر } وهذا القياس سمونه قياس العكس يعني كما أن عليه وزراً في الحرام يكون له أجراً في الحلال فقال  { فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر }.

Ketika orang-orang faqir itu mengadukan kepada Nabi bahwa orang-orang kaya membawa banyak pahala, mereka shalat sebagaimana mereka shalat, mereka berpuasa sebagaimana mereka berpuasa, dan mereka pun bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka, maksudnya bahwa sahabat-sahabat yang faqir itu tidak dapat bersedekah.
Maka Nabi menjelaskan kepada mereka sedekah yang sanggup mereka kerjakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah,. . . dan seterusnya.”
Yakni, jika seseorang mengucapkan subhanallah maka itu adalah sedekah, jika seseorang mengucapkan Allahu akbar maka itu adalah sedekah, jika seseorang mengucapkan alhamdulillah maka itu adalah sedekah, jika seseorang mengucapkan laailaaha illallahu maka itu adalah sedekah.

“Memerintahkan yang ma’ruf.” Yakni, jika ia menyuruh seseorang untuk melakukan amalan ketaatan, maka itu adalah sedekah.

“Melarang hal yang mungkar.” Yakni, jika ia melarang seseorang dari kemungkaran, maka itu adalah sedekah.

“Dan salah seorang dari kalian melampiaskan syahwatnya kepada istrinya adalah sedekah.” Yakni, jika seseorang berjimak dengan istrinya, hal itu adalah sedekah. Amalan-amalan itu semuanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang faqir.

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah ia pun akan mendapatkan pahala dalam hal itu?” Mereka mengucapkan kalimat ini untuk meyakinkan sabda beliau tadi, bukan untuk menunjukkan keraguan dalam hal tersebut, karena mereka yakin betul bahwa apa yang beliau sabdakan pasti benarnya. Akan tetapi, mereka ingin meyakinkan lagi hal itu sehingga mereka bertanya, “Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah dalam hal itu ia akan memperoleh balasan pahala?” Yang mirip dengan pertanyaan ini adalah ucapan Nabi Zakaria,

قَالَ رَبِّ أَنَّىَ يَكُونُ لِي غُلاَمٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ

“Bagaimana aku bisa mendapatkan seorang anak, aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.” (Ali Imran: 40)

Beliau bermaksud untuk meyakini dan memantapkan lagi hal itu, padahal beliau mempercayai. Beliau bertanya, “Bagaimana menurut pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada hal yang haram, apakah ia akan terkena dosa?” Jawabannya: Ya, mereka akan terkena dosa. Beliau berkata, “Begitu pula jika ia melampiaskan dalam hal yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala.” Ini adalah qiyas yang dinamakan dengan kias ‘aks (kebalikan), maksudnya sebagaimana ia akan mendapatkan dosa dalam hal yang haram, demikian pula ia akan mendapatkan pahala dalam hal yang halal. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila ia melampiaskannya pada hal yang halal, maka ia pun akan mendapatkan pahala.”

في هذا الحديث من الفوائد:

حرص الصحابة رضي الله عنهم على السبق إلى الخيرات.

ينبغي للإنسان إذا ذكر شيئاً أن يذكر وجهه لأن الصحابة رضي الله عنهم لما قالوا: ( ذهب أهل الدثور بالأجور ) بيّنوا وجه ذلك فقالوا: ( يصلون كما نصلي… ) إلخ.

أن كل قول يقرب إلى الله تعالى فهو صدقة كالتسبيح والتحميد والتكبير والتهليل والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فكله صدقة.

Hadits ini mengandung beberapa faedah:

1. Antusias para sahabat untuk bersegera dalam kebaikan.

2. Jika seseorang menyebutkan sesuatu, seyogyanya ia menyebutkan latar belakangnya, karena para sahabat ketika mereka mengatakan, “Orang-orang kaya membawa. . . .”, mereka menerangkan latar belakangucapan ini, mereka mengatakan, “Mereka shalat sebagaimaan kami shalat. . . . dan seterusnya.”

3. Segala bentuk ucapan yang mendekatkan diri kepada Allah adalah sedekah, seperti: tasbih, tahmid, takbir, tahlil, al amr bil ma’ruf wa nahyi ‘anil mungkar (memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Jadi semua ucapan itu adalah sedekah.

الترغيب في الإكثار من هذه الأذكار، لأن كل كلمة منه تعتبر صدقة تقرب المرء إلى الله عزوجل.

أن الاكتفاء بالحلال والحرام يجعل الحلال قربة وصدقة لقوله : { وفي بضع أحدكم صدقة }.

جواز الاستثبات في الخبر ولو كان صادراً من صادق لقولهم: ( أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ ).

حسن تعليم الرسول  بإيراد كلامه على سبيل الاستفهام حتى يقنع المخاطب بذلك ويطمئن قلبه، وهذا قوله عليه الصلاة والسلام حين سئل عن بيع الرطب بالتمر: { أينقص إذا جف؟ } قالوا: نعم، فنهى عن ذلك.

4. Anjuran untuk memperbanyak dzikir tersebut. Karena setiap patah kata dari kalimat dianggap sebagai sedekah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

5. Mencukupkan pada perkara yang halal dari yang haram, menjadikan perkara yang halal itu sebagai pendekatan (diri) kepada Allah dan sedekah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Dan salah seorang dari kalian melampiaskan syahwatnya kepada istrinya adalah sedekah.”

6. Bolehnya meminta kemantapan dalam hal pemberitaan, sekalipun hal itu disampaikan oleh seorang yang jujur. Berdasarkan ucapan mereka, “Salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah ia pun akan menadapatkan pahala dari hal itu?”

7. Baiknya pola pengajaran Rasulullah, yaitu dengan mengucapkan sabdanya dalam bentuk pertanyaan, sehingga orang yang diajak bicara merasa puas dan tenang dengannya. Termasuk dalam hal ini adalah sabda Nabi, ketika beliau ditanya tentang (hukum) menjual kurma basah dan kurma kering, apakah (timbangannya) berkurang jika telah mengering? Mereka menjawab: ya, maka beliau melarang dari hal itu.
(H.R. Abu Dawud, Nasa’i)

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.