💡 SYARAH HADITS KE 23 ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

💡 SYARAH HADITS KE 23
ARBA’IIN ANNAWAWIYYAH

لحديث الثالث والعشرون
بشرح و تعليق : الشيخ محمد بن صالح العثيمين

Ditulis : Imam An-Nawawy
Syarah : Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

📗 Hadits Ke 23:

 

عن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم:
{ الطهور شطر الإيمان، والحمد لله تملأ الميزان، وسبحان الله والحمد لله تملأن – أو: تملأ – ما بين السماء والأرض، والصلاة نور، والصدقة برهان، والصبر ضياء، والقرآن حجة لك أو عليك؛ كل الناس يغدو، فبائع نفسه فمعتقها، أو موبقها }.

[رواه مسلم].

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan, Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran meruapakan sinar. Al Qur’an bisa sebagai pembela bagimu, bisa pula sebagai bumerang bagimu. Setiap pagi manusia dapat menjual dirinya, apakah ia akan memerdekakan dirinya atau akan membinasakannya.”
(HR. Muslim)

الشرح:

عن أبي مالك – الحارث بن عاصم – الأشعري  قال: قال رسول الله : { الطهور شطر الإيمان } بضم الطاء يعني الطهارة.

شطر الإيمان أي نصفه وذلك أن الإيمان تخلي وتحلي، أما التخلي فهو التخلي عن الإشراك، لأن الشرك بالله نجاسة كما قال الله تعالى:  إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا  [التوبة:28].

فلهذا كان الطهور شطر الإيمان، وقيل: إن معناه أن الطهور للصلاة شطر الإيمان، لأن الصلاة إيمان ولا تتم إلا بطهور… لكن المعنى الأول أحسن وأعم.

Penjelasan:

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan “. Dengan didlomahkan huruf tha’nya, maknanya adalah thaharah, “syathrul iman”, yakni separuhnya, karena keimanan adalah takhalli dan tahalli/memakai. Adapun takhalli yakni melepaskan (membersihkan) diri dari kesyirikan. Karena syirik kepada Allah adalah najis, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا.

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil haram sesudah tahuan ini.” (At Taubah: 28)

Oleh karena itu, kesucian adalah separuh dari keimanan. Dikatakan pula bahwa maknanya adalah bersuci untuk shalat adalah separuh dari keimanan, karena shalat merupakan keimanan dan ia tidak sempurna kecuali dengan bersuci. Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik dan lebih umum.

وقال: { والحمد لله تملأ الميزان } الحمد لله تعني: وصف الله تعالى بالمحامد والكمالات الذاتية والفعلية، { تملأ الميزان } أي ميزان الأعمال لأنها عظيمة عند الله عزوجل ولهذا قال النبي : { كلمتان حبيبتان إلى الرحمن، خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان، سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم }.

 

“Alhamdulillah memenuhi timbangan”. Alhamdulillah, yakni pensifatan
Asy Syaikh rahimahullah berkata: Hadits ke Allah dengan segala puja dan puji dan sifat-sifat yang sempurna, baik sifat-sifat dzatiyah maupun fi’liyah. Memenuhi timbangan, yakni timbangan amalan. Karena kalimat tersebut begitu agung di sisi Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua kalimat yang dicintai Ar Rahman, ringan di lisan, namun berat dalam timbangan, yaitu subhanallah wa bihamdih dan subhanallah al ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim)

وقال: { سبحان الله والحمد لله } يعني الجمع بينهما { تملأ } أو قال: { تملان ما بين السماء والأرض } وذلك لعظمهما ولاشتمالهما على تنزيه الله تعالى عن كل نقص، وعلى إثبات الكمال لله عزوجل، ففي التسبيح تنزيه الله عن كل نقص، وفي الحمد وصف الله تعالى بكل كمال، فلهذا كانتا تملان ما بين السماء والأرض.

ثم قال: { والصلاة نور } يعني: أن الصلاة نور في القلب وإذا استنار القلب استنار الوجه، وهي كذلك نور يوم القيامة قال تعالى:  يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ …  [الحديد:12]. وهي أيضاً نور بالنسبة للاهتداء والعلم وغير ذلك من كلما فيه النور.

“Subhanallah dan Alhamdulillah”, yakni gabungan kedua kalimat tersebut memenuhi langit dan bumi. Itu karena begitu agungnya kedua kalimat tersebut. Karena kedua kalimat tersebut mengandung pensucian terhadap Allah dari segala kekurangan, dan juga mengandung penetapan kesempurnaan bagi Allah. Tasbih (ucapan Subhanallah) mengandung pensucian terhadap Allah dari segala bentuk kekurangan, sedangkan hamdalah (ucapan Alhamdulillah) mengandung pensifatan Allah dengan segala bentuk kesempurnaan. Oleh karena itu, kedua kalimat ini memenuhi antara langit dan bumi. Kemudian sabdanya, “Shalat adalah cahaya”, maksudnya adalah bahwa shalat adalah cahaya di dalam hati, jika hati bersinar, maka wajah pun bersinar pula. Demikian pula, ia adalah cahaya pada hari kiamat kelak. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan berjalan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (Al Hadiid: 12)

Ia pun merupakan cahaya dalam hubungannya dengan perolehan hidayah dan ilmu, dan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat cahaya.

وقال: { والصدقة برهان } أي دليل على صدق صاحبها، وأنه يحب التقرب إلى الله وذلك لأن المال محبوب إلى النفوس ولا يصرف المحبوب إلا في محبوب أشد منه حباً وكل إنسان يبذل المحبوب من أجل الثواب المرتجى وهو برهان على صحة إيمانه وقوة يقينه.

قال: { والصبر ضياء } الصبر أقسامه ثلاثة: صبر على طاعة الله، وصبر على معصية الله، وصبر على أقدار الله.

وقال: { ضياء } نوراً مع حرارة كما قال تعالى:  هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُوراً  [يونس:5].

والشمس فيها النور والحرارة، والصبر كذلك لأنه شاق على النفس فهو يعاني كما يعاني الإنسان من الحرارة ومن الحار.

وقال أيضاً: { والقرآن حجة لك أو عليك } والقرآن حجة لك، أي عند الله عزوجل أو حجة عليك …

فإن عملت به كان حجة لك، وإن أعرضت عنه كان حجة عليك، ثم بين النبي  أن كل الناس يغدون، أي يذهبون الصباح إلي أعمالهم.

وقال: { فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها } كل الناس يغدون ويكدحون ويتعبون أنفسهم، فمنهم من يعتق نفسه ومنم من يوبقها أي يهلكها بحسب عمله، فإن عمل بطاعة الله واستقام على شريعته فقد اعتق نفسه، أي: حررها من رق الشيطان.

“Sedekah adalah bukti yang nyata.” Maksudnya adalah yang menunjukkan akan benar atau jujurnya orang yang menunaikannya, bahwa ia cinta untuk mendekatkan diri kepada Allah. Itu terjadi karena harta benda adalah sesuatu yang dicintai oleh jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu yang dicintai itu tidak akan didermakan (dikeluarkan), kecuali kepada sesuatu yang lebih dicintai dari hal tadi. Dan setiap orang yang mengeluarkan harta yang dicintainya demi (memperoleh) pahala yang diharapkan, hal ini adalah bukti nyata akan jujurnya keimanan dan kuatnya keyakinannya.

“Kesabaran adalah sinar.” Kesabaran dengan tiga bentuknya: sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghadapi maksiat, dan sabar terhadap takdir yang telah Allah gariskan.

(ضِيَاء )

Adalah cahaya yang disertai dengan panas, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, matahari padanya terhadap cahaya dan panas.” (Yunus: 5)

Matahari memiliki cahaya dan panas, kesabaran pun demikian pula, karena hal itu terasa berat bagi jiwa. Jiwa merasakan panasnya kesabaran, sebagaimana seseorang merasakan panas.

“Al Qur’an sebagai pembela atau bumerang bagimu.” Al Qur’an bisa menjadi pembela bagimu atau bumerang bagimu di sisi Allah. Apabila engkau mengamalkannya, dia akan menjadi pembelamu, namun bila engkau berpaling darinya, ia akan menjadi bumerang bagimu. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa setiap pagi manusia pergi menuju pekerjaan mereka.

“Menjual dirinya, bisa sebagai pembebasnya atau yang membinasakannya.” Setiap pagi manusia pergi, mereka berusaha dan bersusah payah. Di antara mereka ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang membinasakan dirinya sesuai dengan amalannya. Jika ia melakukan ketaatan kepada Allah dan istiqamah di atas syari’atNya, berarti ia memerdekakan dirinya dari penghambaan setan dan nafsu. Jika keadaannya kebalikan dari hal itu, berarti ia telah mencelakakan dirinya sendiri.

 

ففي الحديث فوائد:

1 – الحث على الطهور وبيان منزلته من الدين، وأنه شطر الإيمان.

2 – الحث على حمد الله وتسبيحه، وأن ذلك يملأ الميزان، وأن الجمع بين التسبيح والحمد يملأ ما بين السماء والأرض.

3 – الحث على الصلاة، وأنها نور يتفرع على هذه الفائدة أنها تفتح للإنسان باب العلم والفقه.

4 – الحث على الصدقة، وبيان أنها برهان، ودليل عل صدق إيمان صاحبها.

5 – الحث على الصبر وأنه ضياء وأنه يحصل منه مشقة على الإنسان كما تحصل المشقة بالحرارة.

6 – أن القرآن حجة للإنسان أوعليه، وليس هناك واسطة بحيث لا يكون حجة للإنسان أو حجة عليه، بل إما كذا وإما كذا، فنسأل الله أن يجعله حجة لنا نافعاً لنا.

Faedah – faedah yang dikandung dalam hadits ini:

1. Anjuran untuk bersuci dan menjelaskan kedudukan bersuci dalam agama, dan bahwa thaharah (bersuci) adalah seperti keimanan.

2. Anjuran untuk memuji Allah dan mensucikanNya. Dan bahwa hal itu memenuhi timbangan dan gabungan antara tasbih dan hamdalllah memenuhi antara langit dan bumi.

3. Anjuran untuk mengerjakan shalat. Dan sesungguhnya shalat adalah cahaya. Dan bercabang dari faedah ini, sesungguhnya shalat akan membuka pintu ilmu dan pemahaman bagi seseorang.

4. Anjuran untuk bersedekah, dan penjelasan bahwa sedekah adalah bukti nyata dan tanda jujurnya keimanan pelakunya.

5. Anjuran untuk bersabar. Dan sesungguhnya kesabaran adalah cahaya. Dan sesungguhnya dari kesabaran itu, akan muncul sesuatu yang memberatkan manusia, sebagaimana munculnya kepayahan karena panas.

6. Al Qur’an adalah pembela bagi seseorang atau merupakan bumerang baginya. Dan tidak ada posisi pertengahan di mana Al Qur’an itu bukan merupakan pembela, atau bukan pula merupakan bumerang bagi dirinya. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan Al Qur’an sebagai pembela yang bermanfaat bagi kita.

ومن فوائد الحديث: أن كل الناس لا بد أن يعملوا لقوله: { كل الناس يغدو } وثبت عن النبي  أنه قال: { أصدق الأسماء حارث وهمام } لأن كل إنسان حارث وهمام.

ومن فوائد الحديث: أن العامل إما أن يعتق نفسه وإما أن يوبقها، فإن عمل بطاعة الله واجتنب معصيته فقد أعتق نفسه وحررها من رق الشيطان وإن كان الأمر بالعكس فقد أوبقها، أي أهلكها.

ومن فوائد الحديث: أن الحرية حقيقة هي: القيام بطاعة الله وليست إطلاق الإنسان نفسه ليعمل كل شيء أراده،

 

7. Setiap manusia harus bekerja, berdasarkan sabdanya, “Setiap pagi manusia pergi.” Dan telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

“Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam.” (Dhaif/lemah, dilemahkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana di dalam Al Irwa’ [1164])

Karena setiap orang adalah Harits (petani) dan Hammam (orang yang memiliki keinginan kuat).

8. Orang yang beramal itu bisa jadi membebaskan dirinya, bisa pula membinasakan dirinya sendiri. Apabila ia menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan, maka ia membebaskan dan memerdekakan dirinya dari penghambaan setan. Jika keadaannya kebalikan daripada itu, maka ia telah membinasakan dirinya, yakni menghancurkannya.

9. Kesabaran yang hakiki adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah, bukan pengorbanan hawa nafsu untuk melakukan segala sesuatu yang ia inginkan.

قال ابن القيم رحمه الله في النونية:

Ibnul Qayyim dalam Nuniyyahnya berkata,

هربوا من الرق الذي خلقوا له
وبلوا برق النفس والشيطان

Mereka lari dari penghambaan yang mereka telah diciptakan untuk tujuan itu,

Mereka telah ditimpa dengan penyembahan nafsu dan setan.

فكل إنسان يفر من عبادة الله، فإنه سيبقى في رق الشيطان ويكون عابدا للشيطان.

Setiap orang yang melarikan diri untuk beribadah kepada Allah, maka dia akan tetap dalam penghambaan setan dan akhirnya ia menjadi penghamba setan.

 

(In Syaa Allah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.