💞Bithonah yang jahat…

💞Bithonah yang jahat…

Tadabbur ayat Al-Qur’an

✍ Fenomena akhir zaman yang memilukan, bahwa manusia mencari relasi kawan hanya mementingkan perkara dunia, padahal kepentingan akhirat lebih penting

Allah mengingatkan orang-orang beriman agar menjaga bithonah (kawan dekatnya) sebagaimana firmannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”[Ali ‘Imran : 118]

Allah Tabaaraka wa Ta’aala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan.
Yakni mereka akan membukakan rahasia dan segala yang tersembunyi untuk musuh orang-orang Islam. Dan orang-orang munafik itu, dengan segenap daya dan kekuatannya, tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi orang-orang yang beriman. Yakni selalu berusaha keras untuk menyelisihi dan menjerumuskan mereka ke dalam bahaya dengan segala cara, serta melakukan berbagai tipu muslihat yang dapat dilakukan. Mereka juga menyukai hal-hal yang dapat menyulitkan, melukai danmenyusahkan orang-orang yang beriman.

Dan firman-Nya,
لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ
“Janganlah kamu mengambil orang-orang yang berada di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu.”
Yakni orang-orang yang bukan golongan kalian dari pemeluk agama lain.
Bithonah (بِطَانَةً) berarti orang dekat yang dapat mengetahui urusan dalam.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Allah tidak mengutus seorang Nabi dan tidak juga mengangkat seorang khalifah pun melainkan ia memiliki dua orang kepercayaan (orang terdekat); yang pertama menyuruh dan menekankan untuk berbuat kebaikan. Dan yang lainnya menyuruh dan menekankan untuk berbuat kejahatan. Hanya orang yang dipelihara Allah sajalah yang selalu terhindar (dari kesalahan dan dosa).” (HR. Al-Bukhari ).

Ibnu Abid Dahqanah berkata, pernah dikatakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab: “Di sini ada seorang pemuda dari penduduk Hirah yang cakap menghafal dan menulis. Jika saja engkau berkenan menjadikannya sebagai juru tulis (sekretaris).” Maka ‘Umar menjawab: “Jika demikian berarti aku telah mengambil orang kepercayaan (bithaanah) dari kalangan orang-orang non-muslim.”(Riwayat Ibnu Hatim)

Dalam ayat di atas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ahludz dzimmah (orang-orang non-muslim yang hidup di bawah kekuasaan orang muslim) tidak boleh dipakai sebagai juru tulis, yang dapat menimbulkan keangkuhan terhadap kaum muslimin dan mengetahui urusan-urusan intern yang dikhawatirkan akan dibocorkan kepada musuh ahlul-harb (orang-orang yang wajib diperangi).

Oleh karena itu, Allah berfirman,
لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ
“Mereka tidak henti-hentinya [menimbulkan] kemudharatan bagimu dan menyukai apa yang menyusahkanmu.”

Al-Hafizh Abu Ya’la mengatakan dari al-Azhar bin Rasyid, ia berkata: “Mereka mendatangi Anas bin Malik, apabila ia menceritakan suatu hadits yang tidak mereka fahami, maka mereka mendatangi al-Hasan al-Bashri, lalu al-Hasan al-Bashri pun menafsirkannya untuk mereka.”
Pada suatu hari Anas menceritakan kepada mereka sebuah hadits Nabi:
“Janganlah kalian menggunakan penerangan dengan api orang-orang musyrik, dan jangan pula kalian mengukir pada cincin kalian tulisan Arab.”

Mereka tidak mengerti apa makna hadits tersebut. Kemudian mereka mendatangi al-Hasan al-Bashri seraya mengatakan: “Sesungguhnya Anas bin Malik menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah bersabda: ‘Janganlah kalian menggunakan penerangan dengan api orang-orang musyrik, dan jangan pula kalian mengukir pada cincin kalian tulisan Arab.’
Maka al-Hasan al-Bashri berkata mengenai sabdanya:
“Janganlah kalian mengukir pada cincin tulisan Arab,” adalah (tulisan) Muhammad.”
Adapun sabdanya: “Janganlah kalian menggunakan penerangan dengan api orang-orang musyrik,” adalah, janganlah kalian meminta pendapat kepada orang-orang musyrik dalam urusan kalian.”

Lebih lanjut al-Hasan al-Bashri berkata: “Penetapan tersebut berdasarkan firman Allah,
لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ
“Janganlah kamu mengambil orang-orang yang berada di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu.”

Kemudian Allah berfirman,
قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ
“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.”
Maksudnya, telah nyata benar pada raut wajah mereka. Lontaran ucapan mereka dan sikap permusuhan yang disertai dengan kebencian dalam hati mereka terhadap Islam dan para pemeluknya, adalah sesuatu yang tampak jelas bagi orang-orang yang berakal.

Oleh karena itu Allah berfirman,
قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Sungguh Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat [Kami], jika kamu memahaminya.”

📚 Diringkas dari tafsir Al Quran Al-Adhim, Imam Ibnul Katsir

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.💫…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.