💖 HAWA NAFSU AWAL MALAPETAKANYA…

💖 HAWA NAFSU AWAL MALAPETAKANYA…

✍Allah berfirman:

فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ
وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Ada pun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan ada pun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 37-41)

Hawa nafsu memang diciptakan dalam fitrah manusia. Tidak ada manusia yang dapat menghilangkan hawa nafsunya. Bahkan jika manusia tidak memiliki hawa nafsu justru menunjukkan tidak kesempurnaannya.
Sehingga hawa nafsu hanya bisa dikendakikan.
Sebagaimana janji Allah dalam ayat diatas, bahwa mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, surga menjadi balasannya.

Sebagaimana pernyataan Nabi Yusuf عليه السلام tentang nafsu,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚإِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚإِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Yusuf: 53)

Alloh berfirman:

أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا.
أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا.

” Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). ” (Al-Furqan 43-44)

Berkata Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله,

“Dasar permusuhan, kejahatan dan kedengkian yang muncul dikalangan manusia ialah karena mengikuti nafsu. Siapa yang menentang nafsunya berarti membuat hati dan badannya menjadi tentram dan sehat. Abu Bakar Al Warraq berkata : “Jika nafsu yang menang, maka hati menjadi gelap. Jika hati menjadi gelap, maka dada terasa sesak. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaq menjadi buruk. Jika akhlaq menjadi buruk, maka ia membenci orang lain, dan orang lainpun membencinya. Maka perhatikanlah apa yang diakibatkan nafsu, seperti kebencian, kejahaan, permusuhan, mengabaikan hak orang lain dan sebagainya.”
“Haruslah diketahui bahwa nafsu tidaklah mencampuri sesuatu perkara melainkan ia akan merusaknya.
Jika nafsu mencampuri ilmu, maka ia mengeluarkannya kepada bid’ah dan kesesatan, pelakunya menjadi kelompok orang yang mengikuti nafsu.
Jika nafsu mencampuri zuhud, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada riya’ dan menyalahi sunnah.
Jika nafsu mencampuri hukum, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada kedholiman dan menghalangi kebenaran.
Jika nafsu mencampuri dalam pembagian harta, maka mengeluarkan pembagian itu kepada ketidak adilan dan kebohongan.
Jika nafsu mencampuri ibadah, maka ibadah itu akan keluar dari ketaatan dan taqarub.
Jadi, selagi nafsu mencampuri sesuatu, maka ia akan merusaknya”. (Raudhah Al-Muhibbin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

    ✏📚✒...💉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.