๐ŸŽ— Landasan menjaga iman โ€ฆ

๐ŸŽ— Landasan menjaga iman โ€ฆ

โœNikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada manusia sebagai hamba-Nya yang muslim adalah nikmat iman yang melebihi kenikmatan lainnya dalam bentuk apapun. Dengan iman dan hidayah tersebut, seseorang memiliki tuntunan dan tujuan hidup yang jelas baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak.
Maka setelah seorang muslim tahu bahwa iman merupakan sesuatu yang penting dan berharga, maka ia wajib memberi perhatian dan perawatan lebih kepada iman ini, selalu menjaga hal-hal yang mengurangi iman dan memacu agar iman ini selalu naik.
Dan sangat penting merawat keimanan supaya iman tidak hilang dalam dirinya, sehingga seorang akan menjadikan masalah iman ini sebagai prioritas utama dalam hidupnya.
Kebanyakan umat Islam saat ini belum bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya beribadah dan manisnya amal kebajikan karena mereka menganggap iman itu bukan suatu nikmat terbesar.

Tidak diragukan lagi bahwa nikmat Allah yang paling besar terhadap hamba-Nya adalah nikmat hidayah dalam agamaNya yang telah Dia pilihkan untuk hambanya serta Dia perintahkan untuk memeluknya.
Allah berfirman, 

ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽูƒู’ู…ูŽู„ู’ุชู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฏููŠู†ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุชู’ู…ูŽู…ู’ุชู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู†ูุนู’ู…ูŽุชููŠ ูˆูŽุฑูŽุถููŠุชู ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ูŽ ุฏููŠู†ู‹ุง.
โ€œPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.โ€(Al-Maidah: 3)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini merupakan nikmat Allah yang paling besar terhadap umat ini. Yaitu dengan Dia menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain itu dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, semoga shalawat dan salam terlimpahkan untuk mereka. Karena itu Alalh menjadikannya (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) sebagai akhir para nabi dan diutus untuk jin dan manusia. Tidak ada yang halal kecuali apa yang dia halalkan, tidak ada yang haram kecuali apa yang dia haramkan, tidak ada agama kecuali apa yang dia ajarkan. Semuanya telah dia sampaikan. Beliau adalah orang yang benar dan jujur, tidak ada dusta dan penipuan padanya.(Tafsir Ibnu Katsir)

Ketiadaan iman disebut juga dengan ketersesatan (dholal). Iman adalah aset berharga seseorang sebagai anugerah dari Allah. Dan, pada dasarnya tidak ada manusia yang disesatkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang fasiq. Dengan kata lain, bila manusia telah menjadi fasiq, ia pasti akan tersesat.
Allah berfirman;

ู…ูŽุงุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ูŽู€ุฐูŽุง ู…ูŽุซูŽู„ุงู‹ ูŠูุถูู„ูู‘ ุจูู‡ู ูƒูŽุซููŠุฑุงู‹ ูˆูŽูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุจูู‡ู ูƒูŽุซููŠุฑุงู‹ ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูุถูู„ูู‘ ุจูู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู’ููŽุงุณูู‚ููŠู†ูŽ
ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู†ู‚ูุถููˆู†ูŽ ุนูŽู‡ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู† ุจูŽุนู’ุฏู ู…ููŠุซูŽุงู‚ูู‡ู ูˆูŽูŠูŽู‚ู’ุทูŽุนููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ู ุฃูŽู† ูŠููˆุตูŽู„ูŽ ูˆูŽูŠููู’ุณูุฏููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ุฃููˆู„ูŽู€ุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽุงุณูุฑููˆู†ูŽ
โ€œโ€ฆdan, tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasiq. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.โ€ (Al-Baqarah: 26-27).

Ammar bin Yasir ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง menasihatkan untuk menjaga keimanan dengan menumpulkan tiga hal, beliau berkata:

ุซูŽู„ุงูŽุซูŒ ู…ูŽู†ู’ ุฌูŽู…ูŽุนูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽ:
ุงู„ุฅูู†ู’ุตูŽุงูู ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽุŒ
ูˆูŽุจูŽุฐู’ู„ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ู„ูู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ูุŒ
ูˆูŽุงู„ุฅูู†ู’ููŽุงู‚ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฅูู‚ู’ุชูŽุงุฑู
โ€œAda tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan:
inshaf (keadilan) dari jiwamu,
menebarkan salam kepada alam (masyarakat),
dan berinfak disaat sangat membutuhkan.โ€ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhรขry secara Muโ€™allaq dan Al-Baihaqy]

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa keimanan sangat mudah goyah pada awal mula pertumbuhannya, apalagi di kalangan anak kecil dan kaum awam. Oleh karenanya, iman harus selalu diperkokoh.
Jalan untuk menguatkan dan meneguhkan iman bukanlah dengan mempelajari kemahiran berdebat dan ilmu kalam, akan tetapi dengan
(1) menyibukkan diri membaca al-Qurโ€™an berikut tafsirnya,
(2) membaca hadits disertai maknanya, dan
(3) menyibukkan diri dengan menunaikan berbagai tugas ibadah. Dengan demikian kepercayaannya senantiasa bertambah kokoh oleh dalil dan hujjah al-Qurโ€™an yang mengetuk pendengarannya, juga oleh dukungan hadits-hadits beserta faidahnya yang ia temukan, kemudian oleh pendar cahaya ibadah dan tugas-tugasnya. Hal itu juga diiringi dengan
(4) menyaksikan kehidupan orang-orang shalih, bergaul dengan mereka, memperhatikan tindak-tanduk mereka, mendengar petuah-petuah mereka, juga melihat perilaku mereka dalam ketundukannya kepada Allah, rasa takut mereka kepada-Nya, serta kemantapan mereka kepada-Nya.โ€(Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghozali)

Wallahu a’lam.

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

   โœ๐Ÿ“šโœ’.๐Ÿ“Œ ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.