🌹 Ketika cinta butuh pembuktian ….

🌹 Ketika cinta butuh pembuktian ….

✍Allah berfirman,
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ.
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[Surat Ali ‘Imran : 31]

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,
1 ). Barangsiapa yang mencitai Allah dengan sebenar-benarnya cinta, maka hendaklah ia dengan hatinya mencintai apa yang Allah cintai dan rasul-Nya, dan membenci apa yang dibenci oleh Allah dan rasul-Nya, tetapi jika ia melakukan suatu perbuatan yang menyalahi kecintaan Allah, maka sesunguhnya hal itu menandakan kurangnya cinta dalam dirinya, maka hendaklah ia bertaubat kepada Allah dan kembali menyempurnakan cintanya.
2 ). Dalam penjelasan kriteria kecintaan dan kepatuhan seseorang kepada Nabi, hendaklah ia tidak melebihkan kecintaannya itu dengan amalan apapun yang belum disyari’atkan oleh beliau, seperti perbuatan bid’ah dengan maksud mencintai beliau, dan merupakan perkara yang lebih berbahaya ketika ia menyampaikan kebid’ahannya itu kepada orang lain dan megatakan : barangsiapa yang tidak mengikuti amalan ini maka cintanya kepada Nabi telah berkurang.
3 ). Pada firman Allah :
{ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي },
disebutkan dengan lafazh ittiba’ yang manandakan akan kedekatan; karena salah satu dampak dari cinta seseorang terhadap orang lain adalah terwujudnya kedekatan diantara keduanya, dan kecintaan seseorang kepada Allah selalu bergantung kepada ittiba’ setiap hamba kepada Rasulullah.
(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,
Ayat yang mulia ini menilai setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sedangkan sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم; bahwa sesungguhnya dia adalah orang yang dusta dalam pengakuannya, sebelum ia mengikuti syariat Nabi dan agama yang dibawanya dalam semua ucapan dan perbuatannya. Seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih, bahwa Rasulullah pernah bersabda:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
Barang siapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amalnya itu ditolak.(Muttafaq alaih)
Karena itulah maka dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian. (Ali Imran: 31)
Yakni kalian akan memperoleh balasan yang lebih daripada apa yang dianjurkan kepada kalian agar kalian mencintai-Nya, yaitu Dia mencintai kalian. Kecintaan Allah kepada kalian dinilai lebih besar daripada yang pertama, yaitu kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama yang bijak, bahwa duduk perkaranya bukanlah bertujuan agar kamu mencintai, melainkan yang sebenarnya ialah bagaimana supaya kamu dicintai.
Al-Hasan Al-Basri dan lain-Lainnya dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa ada segolongan kaum yang menduga bahwa dirinya mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian.” (Ali Imran: 31)

Ibnu Hatim meriwayatkan dari Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا berkata,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَهَلِ الدِّينُ إِلَّا الْحُبُّ والْبُغْضُ؟ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ}
Rasulullah bersabda: Tiada lain (ajaran) agama itu melainkan cinta karena Allah dan benci karena Allah. Allah berfirman:
Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.” (Ali Imran: 31)
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dizaman ini, ada dua fenomena yang bertolak belakang dalam membuktikan cinta ini. Sebagian, merendahkan dan melecehkan Nabi untuk mencari popularitas. Dan sebagian lagi sebaliknya, mereka mengaku paling mencintai Rasulullah akan tetapi amalannya tidak mencerminkan perintah Allah untuk mengikuti petunjuk Nabinya.
Hanya modal kata-kata cinta tanpa adanya bukti nyata kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan berani melakukan perkara baru dalam agama yang tidak ada dasar contohnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Diantara perbuatan mereka yang marak mereka viralkan untuk membuktikan cintanya kepada Nabi (menurut pwrsangkaan mereka) yaitu menyanjung dan memuji Nabi dengan sanjungan berlebihan klewat batas.
Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لَا تُطْرُوْنِـيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah,”Abdullah wa Rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)”.(HR Al-Bukhâri, 3.445)

Ketika besarnya Cinta para sahabat Radhiyallahu’anhu ajmain kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak ada yang bisa menandingi. Namun demikian, sahabat hanya beramal atas dasar petunjuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم sehingga mereka tidak pernah melakukan suatu perkara dalam agama yang tidak dasarnya ataupun dicontohkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم .

Ibnu Katsir رحمه الله dalam menjelaskan :

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof)

Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mencontohkan akhlaq beliau dari bangun tidur hingga tidur lagi selama 24 jam tanpa terputus sedikitpun, sehingga Para Sahabat tidak memiliki waktu luang sedikitpun untuk mengamalkan suatu akhlaq perbuatan dalam agama islam yang tanpa ada contohnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
Sementara kebanyakan manusia dizaman sekarang, amalnya sedikit, waktunya banyak terbuang untuk hal yang percuma, dan bahkan banyak melakukan penyimpangan dari petunjuk Nabi

Sedangkan Allâh memerintahkan ummat ini untuk mencontoh Nabinya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”[Al-Ahzâb: 21]

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc ✏📚✒.🌹..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.