✨ Kepemimpinan laki-laki, ciri wanita Sholihah, dan pernik-pernuk penikahan..

✨ Kepemimpinan laki-laki, ciri wanita Sholihah, dan pernik-pernuk penikahan..

Tadabbur ayat Al-Qur’an

✍ Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
‘Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka, dan pisahkanlah di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mababesar.” [An-Nisa’ 34]

Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”
Yaitu laki-laki adalah pemimpin kaum wanita dalam arti pemimpin, kepala, hakim dan pendidik wanita, jika ia menyimpang;

بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita].”
Yaitu karena laki-laki lebih utama dari wanita dan laki-laki lebih baik daripada wanita. Karena itu, kenabian dikhususkan untuk laki-laki. Begitu pula raja (kepala negara), berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
“Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita (sebagai pemimpin) dalam urusan mereka.” (HR. Al-Bukhari).

Firman Allah:

فَالصَّالِحَاتُ
“Maka wanita-wanita yang shalih,”
maksudnya, dari kaum wanita.

قَانِتَاتٌ
“Yang taat.”
Ibnu `Abbas dan banyak ulama berkata, artinya wanita-wanita yang taat pada suaminya.

حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ
“Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.”
As-Suddi dan ulama yang lain berkata: “Yaitu wanita yang menjaga suaminya di waktu tidak ada (di samping-nya) dengan menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.”

Firman Allah:

بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Oleh karena Allah telah memelihara mereka.”
Yaitu, orang yang terpelihara adalah orang yang dijaga oleh Allah.

Rasulullah صلى الله عليه bersabda: “
“Apabila seorang wanita menjaga shalat yang lima waktu, puasa Ramadhannya, menjaga farjinya (kemaluannya) dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah ke dal am jannah (Surga) dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.’”(HR Ahmad)

Firman Allah:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya.”
Yaitu, wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya kepada suami mereka.
An-Nusyuz adalah merasa lebih tinggi. Berarti wanita yang nusyuz adalah wanita yang merasa tinggi di atas suami-nya dengan meninggalkan perintahnya, berpaling dan membencinya. Kapansaja tanda-tanda nusyuz itu timbul, maka nasehatilah dia dan takut-takutilah dengan siksa Allah, jika maksiat kepada suaminya. Karena Allah telah mewajibkan hak suami atas isteri, dengan ketaatan isteri kepada suami, serta mengharamkan maksiat kepadanya, karena keutamaan dan kelebihan yang dimiliki suami atas isteri.

Maka Allah mengajarkan hambanya, bagaimana cara mengarahkan dan meluruskan kebengkokan para wanita.

Yaitu,

١- فَعِظُوهُنَّ
1- maka nasehatilah mereka,

٢- وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ
2- dan pisahkanlah di tempat-tempat tidur mereka,

٣- وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ
3- dan pukullah mereka.

Firman Allah,

فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا
“Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.”

Jika mereka sudah kembali taat, maka berakhirlah nusyuznya.

Dan tidak boleh menyakiti dan menyusahkan mereka, karena Allah selalu memperhatikan perbuatan hambanya.

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mababesar.”

📚Dinukil secara ringkas dari Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Imam Ibnu Katsir

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.📒…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.