✍Boleh berhutang jika mampu membayar

?Berhutang dengan jalan yang benar …

✍Boleh berhutang jika mampu membayar.

Dari Ummul Mukminin Maimunah,

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ  مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا

“Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan,
“Jangan kamu lakukan itu!”
Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut.
Lalu Maimunah mengatakan,
“Iya.
Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah, 2408 dan An Nasai, 4690 dogasankan Al-Albany)

Sedangkan ada dalil yang menegaskan tentang bahaya berutang, diantaranya adalah do’a Nabi  صلى الله عليه وسلم dalam shalat yang meminta perlindungan pada Allah dari sulitnya utang.

Dari ‘Aisyah bahwa صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Nabi biasa berdo’a di dalam shalat:

اللهم إني أعوذ بك من المأثم والمغرم
(Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).”
Lalu ada yang bertanya kepada beliau, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang?”
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari, 2397 dan Muslim, 589).

Kata Ibnu Hajar, dalam Hasyiyah Ibnul Munir disebutkan bahwa hadits meminta perlindungan dari utang tidaklah bertolak belakang dengan hadits yang membicarakan tentang bolehnya berutang. Sedangkan yang dimaksud dengan meminta perlindungan adalah dari kesusahan saat berutang. Namun jika yang berutang itu mudah melunasinya, maka ia berarti telah dilindungi oleh Allah dari kesulitan dan ia pun melakukan sesuatu yang sifatnya boleh (mubah)(Fathul Bari, 5: 61)

Berutanglah dengan Jalan yang Benar …!

Jika berutang dibolehkan saat mudah untuk melunasinya, bukan berarti kita asal-asalan saja dalam berutang dan di antara bentuknya adalah mengambil kredit. Karena jika di dalam utang dipersyaratkan mesti dilebihkan saat pengembelian, maka itu adalah riba dan hukumnya haram.
Ibnu Qudamah berkstaٍ,
“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Semoga bermanfaat

✏?✒.?..?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.