​?Jahil atau kebodohan

​?Jahil atau kebodohan
✍Allah memerintahkan hambanya untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh
Alloh berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Pergunakanlah maaf  dan anjurkan kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (jahiliyyah).”(Al-A’rof : 199).
Hal tidak lain karena daya rusaknya orang-orang jahil sungguh luar biasa. Syubhat yang mereka munculkan bisa membingungkan akal.
Sehingga Imam Asy-Syafii pernah berkata,
“Sungguh aku mudah mengalahkan debat 1000 ulama, tetapi aku tidak bisa mengalahkan debatnya 1 orang yang jahil. ”
Alloh menyebut orang-orang yang bodoh dalam memahami agama Islam disebut sebagai orang-orang yang tidak berakal.
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya sejelek-jeleknya binatang di sisi Allah adalah orang-orang yang tuli dan bisu (dalam menerima kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak berakal.”(Al-Anfal : 22)
Kebodohan termasuk sebab kesesatan yang paling besar, tidak sebatas sesat diri namun menyesatkan orang lain. Bahaya kebodohan, lebih-lebih pada seseorang yang diikuti, disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits Abdullah bin Amru berkata, aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضّلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara langsung, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ulama, orang-orang mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, akibatnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerosakkan daripada mendatangkan kebaikan.”
(Ibnu Taimiyyah dalam Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar)
Al-Ghazali membagi manusia menjadi 4 golongan;
⏺Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu).
Orang ini disebut ‘alim.
⏺Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu).
Mereka seperti seorang alim yang lagi lalai
⏺Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu).
Jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, jenis manusia ini masih bisa menyadari kekurangannnya.
⏺Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu).
Menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.
Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. Manusia seperti ini dinilai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.(Al-Ihya’)
Untuk itu mari kita intropeksi diri masing-masing, di kelompak manakah kita berada…?
?Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc
✏?✒.?..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.